Baku olok antar-fans, jika dijalankan dengan sportivitas dan kedewasaan, bisa menjadi ‘medan perang’ yang aman. Sebuah ruang di mana kita belajar untuk bersaing, merayakan perbedaan, dan pada akhirnya berjabat tangan sebagai sesama manusia.
Kisah Jules Rimet dan Rerum Novarum ini mengajak kita melihat bahwa iman, nilai-nilai kemanusiaan, dan olahraga tidak selalu berjalan di jalur yang berbeda. Ketika dijalankan dengan semangat melayani sesama, semuanya dapat menjadi sarana untuk menghadirkan persaudaraan dan membangun perdamaian.
Piala Dunia 2026 telah usai, piala akan kembali ke lemari tempatnya bersemayam, dan para pemain telah pulang. Namun, misi sesungguhnya baru saja dimulai di tengah masyarakat kita.
Tugas kita sekarang adalah mengubah energi ‘BAKU OLOK YANG TOKSIK’ menjadi persaudaraan yang merayakan perbedaan. Karena pada akhirnya, di luar seragam tim yang kita banggakan, kita semua adalah sesama manusia yang berdiri sejajar di atas bumi yang sama. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










