“Akibatnya, warga yang menyuarakan kritik atau penolakan terhadap proyek-proyek yang mengancam tanah, air, pangan, dan ruang hidup mereka menghadapi risiko yang lebih besar berupa intimidasi, kriminalisasi, hingga pembungkaman,” tuturnya.
Situasi ini kata Linda, secara khusus berdampak pada perempuan, yang tidak hanya berada di garis depan dalam mempertahankan sumber-sumber kehidupan komunitasnya, tetapi juga sering menghadapi diskriminasi berlapis ketika memperjuangkan hak-haknya di ruang publik.
Lebih jauh, Linda mengkritik kecenderungan yang memandang suara perempuan akar rumput sebagai ancaman terhadap kepentingan negara ketika mereka mempertahankan tanah, air, pangan, dan ruang hidupnya.
Padahal, menurutnya, kedaulatan negara tidak boleh dibangun dengan mengorbankan kedaulatan perempuan atas sumber-sumber kehidupan.
“Sebaliknya, pembangunan yang adil harus memastikan perempuan menjadi subjek yang didengar, diakui pengetahuannya, serta dilibatkan secara penuh dalam setiap proses pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










