BAJAWA, FLORESPOS.net-Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) St. Agustinus Langa menggandeng Puskesmas Langa menggelar sosialisasi edukatif mini project. Kegiatan ini bertajuk “Gambaran Masalah Emosi dan Perilaku Siswa-Siswi SMAK St. Agustinus Langa”.
Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan di SMAK St. Agustinus Langa, Rabu (20/5/2026) menghadirkan 4 narasumber yaitu dokter di Puskesmas Langa.
Kegiatan ini merupakan hasil dari penelitian yang telah dilakukan oleh para dokter kepada peserta didik di SMAK St. Agustinus Langa. Kegiatan ini memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental dan perilaku yang positif.
Dalam pemaparannya, dr. Cristian Georgy menjelaskan masa remaja merupakan periode yang sangat penting dalam pembentukan karakter, emosi, dan perilaku.
Dijelaskan, pada masa ini, para remaja sering menghadapi berbagai tantangan, seperti tekanan akademik, pergaulan, penggunaan media sosial, hingga persoalan dalam keluarga. Kondisi ini menurutnya dapat menjadi pemicu terjadinya perubahan perilaku.
Ia juga menjelaskan pentingnya kegiatan ini dilakukan di SMAK Langa karena sudah terjadi kasus di Ngada yaitu seorang pelajar SD melakukan bunuh diri. Hal ini terjadi karena ada perubahan perilaku.
Menurutnya perubahan perilaku sering terjadi ketika peserta didik mengalami masa peralihan dari remaja menuju dewasa muda. Hal ini sering terjadi pada usia SMA dimana peserta didik sering mengalami kebingungan.
Dikatakan bahwa pihaknya melihat bahwa perubahan perilaku sering terjadi ketika memasuki masa-masa SMA.
“Masa SMA adalah peralihan dari masa remaja menuju dewasa muda sehingga mereka sering kehilangan arah. Mereka haus akan validasi karena masih mencari jati dirinya,” ucap dr. Georgy.
Sebagai dokter yang bertugas di Puskesmas Langa, dirinya merasa perlu untuk memberikan perhatian kepada SMAK Langa. Perhatian ini dilakukannya dengan menggelar kegiatan edukasi agar dapat mengetahui dan mengeliminasi kesehatan mental peserta didik.
Menurutnya ketika terjadi masalah, kepala sekolah, guru BK, orang tua, dan masyarakat maupun petugas Puskesmas dapat bersinergi menyelesaikan masalah secara bersama dan bukan menjadi beban yang harus ditanggung oleh peserta didik.
Ia berharap agar kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan dalam hal mengevaluasi kesehatan mental peserta didik di SMAK Langa.
Selanjutnya langkah pencegahan bisa dilakukan oleh guru BK, dan semua elemen terkait dengan cara memberikan pendampingan dan mengisi kuisioner agar dapat mengetahui lebih dini mengenai kesehatan mental peserta didik. *
Penulis : Wim de Rosari
Editor : Wentho Eliando










