ENDE, FLORESPOS.net-Dua siswa SMA Swasta Katolik Syuradikara lagi-lagi meraih beasiswa untuk belajar di Universitas Nantong College of Science and Thecnology, Provinsi Jiangsu, China.
Sebelumnya, Maria Yoana Wona Hipir dan Giorgio Peter Marthin Aditya Soan juga meraih beasiswa ke Universitas Nanzan, Jepang. Kali ini, Fidelius Sopi Soka dan Gladwin Andrew Wijaya juga tak kalah bersaing dengan dua rekan seangkatan mereka.
“Mereka angkatan ke-70. Luar biasa karena anak-anak berjuang dengan cara mereka untuk bisa berkuliah di luar negeri, kali ini Fidel dan Endro mendapat beasiswa ke Nantong, China,” kata Bruder Kristianus Riberu, SVD, Kepala SMA Swasta Katolik Syuradikara ketika ditemui media ini, Rabu (19/5/2026).
Bruder Kristianus bilang, beasiswa ini difasilitasi oleh Pengurus Daerah Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) NTT yang diketuai Theodorus Widodo yang menjaring anak-anak se-Indonesia, termasuk ke level daerah di Nusa Tenggara Timur.
“Fidel dan Endro akan mendapatkan biaya kuliah gratis, asrama gratis, dan uang saku 380 Yuan per bulan, itu sekira 900-an ribu,” jelas dia.
Ia mengatakan bahwa tugas SMA Swasta KatoliK Syuradikara sebagai sekolah misi adalah menembus ruang dan waktu menuju ke pelosok-pelosok dunia.
“Saya berpesan, dulu misionaris sulung Santo Yosef Freinadametz diutus ke China. Dia tidak mau pulang hingga wafat di China; jadi pergilah, kami mengutus kalian untuk meraih mimpi dan cita-cita,” ungkap Bruder Kristianus.
Ia juga meminta dukungan penuh dari orang tua dan berharap mereka bisa menempuh pendidikan sampai selesai.
“Untuk Syuradikara, tahun ini anak-anak kami yang berangkat ke luar negeri sebanyak lima orang, dua ke Jepang, dua ke China, dan satunya ke Tokyo lewat tes pribadi,” katanya.
Dalam wawancara yang sama, Fidel dan Endro, mereka biasa disapa, mengatakan bahwa kuliah di luar negeri, khususnya di China adalah mimpi semua orang.
“Saya terkejut, sedikit sedih karena jauh dari keluarga, tapi untuk masa depan, saya akan berjuang keras,” katanya.
Ia menambahkan, pilihan kuatnya adalah mendalami science, khususnya manufacturing thecnology atau teknologi manufaktur.
“Itu di dalamnya ada penerapan alat, mesin, perangkat lunak, dan teknik rekayasa untuk mengubah bahan mentah menjadi produk dengan gabungan AI dan roboting juga,” katanya.
Fidel ikut menambahkan, mereka sedang mendalami Bahasa Mandarin dan juga Bahasa Inggris sebagai dasar untuk bisa menghadapi lingkungan sosial dan budaya di China.
“Saya dan Endro sejauh ini ikut pendampingan Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris, paling tidak bisa punya pegangan yang kuat dalam proses studi nanti,” pungkasnya.*
Penulis : Eto Kewuta (Kontributor)
Editor : Willy Aran










