Jika kita mengganti istilah lokal dengan istilah asing demi terlihat modern dan tren, kita justru sedang melakukan penghapusan sejarah secara sukarela.
Di era modern sekarang ini, sebuah kamus fisik sering kali kita temukan hanya di rak buku. Agar bahasa Mbay benar melawan lupa, maka kamus bahasa Mbay tidak berhenti dalam bentuk cetak, tetapi diadaptasi menjadi aplikasi ponsel atau fitur keyboard bahasa Mbay, hal ini dikarenakan generasi sekarang lebih banyak berinteraksi dengan layar daripada kertas.
Selain itu perlunya peran pemerintah dalam lembaga sekolah untuk mendukung revitalisasi bahasa daerah. Tanpa mengesampingkan aturan kurikulum yang berlaku. Namun revitalisasi bahasa sering kali gagal jika di rumah orang tua malu berbicara bahasa daerah dengan anaknya.
Akibatnya generasi muda mulai lupa berkomunikasi menggunakan bahasa daerah, dan mereka malu berbahasa daerah karena takut di buli atau di ejek oleh teman-teman yang berasal dari daerah perkotaan. Padahal kalau kita berpikir secara baik dan terbuka, kita tidak perlu merasa bahwa menjadi modern berarti harus melepaskan atribut budaya sendiri.
Semua anggapan yang keliru yang mengatakan bahwa bahasa daerah itu kampungan atau ketinggalan zaman harus kita menerimanya dengan baik. Bahasa daerah adalah salah satu struktur berpikir. Saat kita kehilangan satu cara unik untuk memandang dunia yang tidak dimiliki oleh orang lain. Fenomena ini adalah alarm keras bagi generasi muda.
Tidak sadar kita sedang menukar kekayaan jati diri yang asli dengan seragam identitas global yang seram dan dangkal. Menjadi modern seharusnya tidak berarti menjadi asing bagi tanah kelahiran sendiri. Bangga pada bahasa daerah bukan berarti menolak kemajuan, tetapi justru menunjukkan bahwa kita memiliki akar untuk tumbuh setinggi apa pun.
Kamus bahasa Mbay bukan sekedar surat wasiat dari masa lalu untuk masa depan. Ini adalah kompas aktif sebagai bukti bahwa modernitas tidak harus membuat sebuah transformasi yang sangat jauh.
Dengan memegang kamus bahasa daerah Mbay di satu tangan dan teknologi di tangan yang lain, masyarakat Mbay sedang menunjukkan cara menjadi warga dunia yang bangga akan asal-usulnya.
Pelestarian bahasa bukan tentang menutup diri, melainkan tentang memiliki rumah yang kokoh sebelum kita melangkah sejauh mungkin ke panggung dunia.
Bangga pada bahasa daerah bukanlah sikap anti kemajuan. Justru kefasihan multibahasa (daerah, nasional, internasional) adalah salah satu bukti kecerdasan yang nyata dan mampu untuk kita ungkapkan. *
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang










