Dalam karyanya (tractatus legico-philosopicus 1921), Wittgenstein menegaskan: (the limits of my language mean the limits of my world) “batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku”.
Ketika sebuah bahasa daerah seperti bahasa Mbay mulai luntur, maka satu cara terbaik dalam memandang dunia, alam dan nilai-nilai kemanusiaan juga ikut hilang.
Kamus bahasa Mbay dengan 55 halaman dan 60 ribu kosakatanya berfungsi sebagai peta kognitif. Ia menyelamatkan ribuan konsep kearifan lokal yang tidak memiliki padanan dalam bahasa lain.
Menjaga bahasa Mbay berarti menjaga kekayaan cara berpikir masyarakat Nagekeo agar tetap eksis di peta peradaban, bukan sekadar menjadi catatan kaki sejarah yang usang. Kita harus mematahkan kekeliruan logika bahwa bahasa daerah menghambat kemajuan.
Pelestarian itu justru menciptakan ekosistem trilingualisme yang harmonis: bahasa Mbay sebagai akar ( identitas), bahasa Indonesia sebagai Batang (persatuan), dan bahasa Internasional sebagai bunga ( sarana kontribusi global).
Kamus ini adalah jangkar agar generasi muda Nagekeo tidak menjadi asing di tanahnya sendiri. Kita sering melawan standarisasi global yang membosankan. Secara paradoks, turis mancanegara yang datang ke Nagekeo bukan untuk mencari fotokopi budaya barat, melainkan untuk mencari autentisitas dari budaya Mbay itu sendiri.
Mereka datang untuk mendengar filosofi yang kita simpan di dalam diksi bahasa Mbay. Tanpa akar bahasa yang kuat, generasi muda hanya akan menjadi pemandu wisata yang bisu akan arti dari peninggalan budaya, bukan sebagai duta budaya yang bermanfaat.
Pemerintah jangan hanya melihat kamus sebagai benda mati di rak perpustakaan saja. Bahasa harus diperankan dalam ruang fisik yang nyata. Dalam perspektif Martin Heidegger, (building , dweling, thinking 1951), identitas manusia terbentuk dari cara ia menghuni dan memahami tempatnya.
Revitalisasi bahasa harus menyatu dengan pembangunan destinasi wisata di daerah tersebut. Nama-nama bukit, mata air, gua peninggalan penjajahan, dan ritual budaya di Nagekeo harus tetap menggunakan istilah dengan nama asli bahasa Mbay.
Destinasi wisata harus bisa menjadi laboratorium hidup di mana para wisatawan tidak hanya melihat pemandangan, tetapi juga belajar makna di balik kata di setiap nama tempat wisata yang mereka kunjungi itu.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










