Paradoks Cinta (Refleksi kecil di Hari Kasih Sayang) - FloresPos Net

Paradoks Cinta (Refleksi kecil di Hari Kasih Sayang)

- Jurnalis

Sabtu, 14 Februari 2026 - 15:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rm. Inosensius Sutam

SATU dua hari sebelum tanggal 14 Februari, penulis selalu mendapat pesan dari mahasiswa bimbingan terkait tukar kado saat hari kasih sayang itu. Sering dimulai dengan syering pengalaman lalu misa. Kemudian tukar kado. Diiringi snack atau makan bersama.

Sederhana namun semua gembira. Bukan kadonya. Bukan makannya. Tapi hati yang mau berbagi dalam tulus dan gembira. Salah satu cara mengenangkan hari kasih sayang (Valentine day).

Hidup adalah perayaan cinta. Tanpa cinta semuanya mati. Semua orang lahir dan mati dari dan dalam kasih. Hidup adalah cinta, sama seperti Allah asal hidup adalah cinta.

Bayang-bayang Kebencian, Kesedihan, Kematian

Namun bagi yang agak pesimis, atau mungkin kritis, atau mungkin juga realistis dengan hidup: di mana ada cinta, di sana ada bayang-bayang kebencian, dendam, dan pengkianatan.

Di mana ada kegembiraan, di sana kesedihan mengintai. Di mana hidup mekar, di sana payung kematian menaungi.

Bahkan ada yang katakan bahwa cinta hanya pelipur lara di tengah kebencian dan kesedihan. Hidup itu kematian tertunda. Damai hanya gencatan konflik sejenak. Inilah paradoks cinta.

Paradoks Cinta

Dari siapa dan di mana kita belajar cinta? Jelas di tengah keluarga. Ayah, Ibu, saudara/I kita, dan keluarga besar kita adalah orang-orang menantikan kelahiran kita dengan penuh pengharapan.

Tangisan kita di hari lahir, menjadi tangis kebahagiaan mereka. Kita merasakan aliran cinta tak terbatas dari keluarga kita. Pacar, tunangan, dan pasangan hidup adalah cinta sejati di mana sering janji setia diabadikan secara religius, kultural, atau yuridis. Namun hidup terus berputar.

Pada titik tertentu, kita belajar dari keluarga kemarahan, kejengkelan, rasa diabaikan, diskriminasi, konflik, kesedihan, kecemasan, dan ketakutan. Pacar, tunangan, dan pasangan hidup berbalik arah. Semua ini membawa kita kepada kebencian.

Bahkan untuk beberapa orang, hal ini menjadi keputusan untuk mengakhiri hidupnya. Sebagian lain merasakan pengalaman negative dalam keluarga sebagai akar traumatis sepanjang hidupnya.

Baca Juga :  Pilkada Nagekeo: Arah Perubahan Baru

Lalu kita beralih ke teman-teman kita, sahabat kita, rekan kerja, rekan bisnis, rekan nongkrong, rekan olahraga, dll. Mereka adalah cinta dalam nadi hidup sosial kita.

Mereka adalah jaringan cinta yang menopang hidup kita dalam kehidupan sosio-politik, ekonomis, budaya, religius, pendidikan, bahkan juga dalam urusan pribadi dan keluarga. Namun, mereka itu juga adalah lawan dan musuh masa depan. Sebagiannya, setia sampai mati.

Sebagiannya, pergi saat kita jatuh. Sebagiannya, menjadi pengkianat, menusuk dari belakang, dan menjadi hakim yang tak adil: menarasikan kesalahan kecil menjadi kejahatan besar, menstempel dosa yang tak pernah kita lakukan, menghapus semua kebaikan dan pencapaian, mengviralkan hal-hal pribadi ke public, dst.

Mereka menjadi hakim semena-mena yang menentukan benar-salahnya kita, baik buruk, dan indah-jeleknya kita. Semuanya ada pada tangan mereka. Itulah hidup. Hidup masih merupakan perayaan cinta?

Selanjut kita beralih ke lembaga dengan strukturnya di mana kita hidup. Setiap kita tentu berada dalam sebuah lembaga: adat/budaya, agama, negara/pemerintah, pendidikan, organisasi, kesehatan, ekonomi, politik, dll. Mereka memang menanamkan secara langsung atau tidak langsung cinta.

Di samping sisi profesional, yuridis, administratif, mereka juga mempunyai sisi personal. Merekalah yang memberi kita kerja, penghasilan, perlindungan, keamanan, kenyamanan, dll. Semua itu penting untuk mengembankan cinta.

Namun pada situasi tertentu sering mereka menjadi struktur dan sistem yang menindas, meneror, mengeksploitasi, dll. yang bisa menyebabkan seseorang merasa hampa, tak berguna.

Kaum strukturalis sudah mengatakan hal ini: struktur sering hanya menghidupkan orang yang menguasai lapisan atau sistem intinya, sedangkan selebihnya hanya akan menjadi mangsa dan korban.

Yang paling menakutkan, sejarah sudah mencatat, semua lembaga atau institusi pernah mengorganisir perang di mana yang kecil dan lemah dieksploitasi, dan mati sia-sia. Namun orang-orang yang melakukan ini tetap mempunyai cinta untuk sesamanya. Mengapa bukan untuk semua? Inilah paradoks cinta.

Baca Juga :  Martabat yang Tak Boleh Tersakiti dan Ikhtiar Kolektif untuk Merawatnya (sebuah memoar untuk Prada Lucky Chepril Saputra Namo)

Semua ini seperti membenarkan prinsip romawi kuno, hidup adalah perang. Jika ingin hidup damai bersiaplah untuk berperang (si vis pacem, parabelum). Hal diamini oleh filsuf Inggris, Thomas Hobbes yang mengatakan bellum omnes contra omnes (perang semua melwan semua).

Di sini homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi sesamanya). Dalam lautan kebencian ini, di manakan cinta? Jean-Paul Sartre, filsuf Perancis menjadi pesimis dan curiga dengan orang lain kepada siapa kita memberikan cinta, dan dari siapa kita ingin mengharapkan cinta. Lenfer, cest les autres (Neraka adalah orang lain).

Cinta menurutnya tidak lebih dari siasat licik untuk merenggut dan memenjarakan kebebasan seseorang. Tatapan cinta? Omong kosong. Setiap mata cinta adalah neraka yang membayangi hidup kita. Sampai cinta menjadi sesuatu yang skepstis bahkan absurd.

Si vis pacem para caritatem

Cinta sejati justru memberi pengharapan pada skeptisisme. Cinta sejati justru melahirkan hidup di tengah kekosongan absurditas. Cinta murni selalu mulai dari titik kosong.

Cinta sejati adalah prasyarat mutlak untuk mempertahankan dan meneruskan kehidupan manusia. Kita belajar dari ibu kita. Hanya karena cinta, seorang ibu memutuskan untuk hamil dan mempertahankan janin dalam kandungannya, apa pun kondisi skeptis dan absurd yang ada di luar dirinya.

Demikian juga banyak pahlawan kemanusiaan yang mengurbakan nyawa demi bertumbuhnya cinta dalam situasi tragis dan absurd. Inilah panggilan dan perutusan kehidupan cinta.

Hidup itu indah dan damai, jika kita siap menabur cinta dalam kondisi apapun (si vis pacem para caritatem). Mungkin ini pesan dari hari kasih sayang (Valentine day). Selamat bahagia di hari kasih sayang ini.*

* Rm. Inosensius Sutam adalah rohaniwan Katolik dan dosen di UNIKA St. Paulus Ruteng

Berita Terkait

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel
Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur
Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban
Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores
Piala Dunia, ‘Keabadian’ Misi Jules Rimet dan Epistemologi Rerum Novarum
Membangun Bisnis Ramah Keanekaragaman Hayati Berbasis Masyarakat Lokal
Berita ini 141 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:01 WITA

Gereja Asia, Polarisasi Afektif dan Persatuan yang Kredibel

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:18 WITA

Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Bayang-Bayang Kekerasan di Flores Timur

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:41 WITA

Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:47 WITA

Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:49 WITA

Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Ngada Gelar Festival Komodo Riung di Desa Lengko Sambi Utara

Sabtu, 25 Jul 2026 - 19:38 WITA

Bentara Net

BENTARA NET: Mewaspadai Jalan yang Berujung Air Mata

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:46 WITA