Rasio vs Emosi: Menyikapi Narasi “Darurat 7 Hari” - FloresPos Net

Rasio vs Emosi: Menyikapi Narasi “Darurat 7 Hari”

- Jurnalis

Senin, 19 Januari 2026 - 21:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Florentina Ina Wai

BELAKANGAN ini publik digemparkan oleh isu “Krisis Listrik 7 Hari”. Narasi yang menyebut akan terjadi kelumpuhan total sistem perbankan dan komunikasi pada Januari 2026 ini menyebar cepat, menimbulkan kecemasan massal.

Pertanyaannya, apakah ini benar-benar ancaman teknis atau sekadar cara untuk mengendalikan masyarakat lewat rasa takut?

Secara psikologis, ancaman terhadap sumber daya vital seperti listrik langsung memicu insting bertahan hidup. Otak kita, lewat amygdala, bereaksi cepat dengan rasa panik sebelum logika sempat bekerja.

Teori ‘Mean World Syndrome’ dari George Gerbner menjelaskan bahwa narasi menakutkan yang terus-menerus bisa membuat masyarakat melihat dunia lebih berbahaya dari kenyataannya.

Dalam sejarah, strategi menebar ketakutan (fear-mongering) sering dipakai untuk mengendalikan massa. Ketika orang panik, daya kritis melemah, dan mereka lebih mudah diarahkan. Fokus publik pun bergeser dari isu-isu besar kenegaraan ke sekadar urusan bertahan hidup sehari-hari.

Baca Juga :  Menata Arah Pendidikan dengan Pikiran Strategis

Energi listrik kini tidak terbatas pada kebutuhan, melainkan sudah menjadi tulang punggung rasa aman. Maslow menyebut rasa aman sebagai fondasi hidup manusia, dan riset ekonomi menunjukkan betapa sistem finansial kita bergantung pada arus listrik.

Ketika listrik terancam, kita merasa kehilangan kendali atas hidup sendiri. Inilah yang membuat isu “Darurat 7 Hari” terasa begitu menekan, karena kita sadar betapa besar ketergantungan pada sistem eksternal yang rapuh.

Menghadapi isu semacam ini, solusi bukan hanya menimbun logistik, melainkan membangun mental yang lebih tangguh. Albert Bandura menekankan pentingnya ‘self-efficacy’.

Hal ini mengandung makna suatu keyakinan bahwa kita mampu mengatasi masalah. Caranya adalah dengan mengamankan sebagian aset dalam bentuk fisik, tidak hanya digital, serta menguasai kembali keterampilan hidup sederhana yang tidak bergantung pada teknologi. Dengan rencana cadangan nyata, rasa percaya diri meningkat, dan kita tidak mudah goyah oleh narasi provokatif.

Baca Juga :  Quo Vadis Kurikulum Merdeka Belajar dan Projek Profil Pelajar Pancasila: Menanti Kurikulum Baru Untung atau Buntung? (1)

Di titik ini peringatan Viktor Frankl penting disimak. Baginya, meski sistem eksternal bisa gagal, sikap batin tetap ada di tangan kita. Menolak ikut panik berarti menggunakan kebebasan paling hakiki: kebebasan memilih sikap. Inilah bentuk kedaulatan individu, di mana kita tidak mudah terseret hoaks.

Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang bebas dari krisis, melainkan bangsa yang rakyatnya mampu mengendalikan emosi dan menjaga nalar kritis. Ancaman terbesar bukanlah padamnya listrik, melainkan padamnya logika akibat tunduk pada ketakutan yang dibuat-buat.

Kita harus belajar menjadi individu yang bukan hanya bertahan dalam kegelapan, tetapi juga mampu menjadi sumber cahaya rasional bagi sekitar.*

Penulis adalah Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah Stipar Ende/Alumni Magister SDM Universitas Taman Siswa Yogyakarta

Berita Terkait

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Berita ini 87 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Minggu, 13 September 2026 - 21:30 WITA

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Realisasi Sementara PAD Sampah Manggarai Barat Rp. 2,5 Miliar

Selasa, 15 Sep 2026 - 19:47 WITA