Oleh: Laurent Langga
JOHN Herdman akhirnya dipilih oleh PSSI sebagai juru taktik timnas Indonesia yang baru, dia akan memiliki pekerjaan sulit. Diantaranya adalah membangun tim nasional lagi dari nol. Semua yang telah dibangun oleh pelatih sebelumnya, merubahnya atau memoles lagi? Itu pertanyaan sesungguhnya.
Dengan kontrak yang diberikan oleh PSSI hanya 2 tahun plus opsi perpanjangan 2 tahun, apakah bisa? Tugas berat dan ruwet harus diemban. Dia tidak hanya mengurusi timnas putra saja, tetapi bagaimana seluruh piramida ke bawahnya juga bisa berjalan baik. Masalah terbesar di Indonesia adalah kompetisi yang belum sepenuhnya satu komando dengan PSSI sebagai federasi sepak bola di Indonesia.
Dia juga nantinya harus berkoordinasi dengan Alexander Zwiers yang notabane adalah Direktur Teknis PSSI, seorang Belanda yang tentu datang dari budaya berbeda dengan John Herdman. John seorang pria Inggris. Kita tahu, di Inggris pemain sepak bolanya seperti apa, dan timnasnya seperti apa. Inggris, dengan kualitas yang ada, sudah lebih dahulu jauh beberapa dekade peningkatan kualitas para pemainnya dan tentu liganya. Lihat liga Inggris sekarang.
Sesuai judul, pemilihan John Herdman sebagai pelatih ini bermula dari pemecatan Shin Tae-yong (STY) lalu digantikan Patrick Kluivert yang berujung kegagalan.
Kiprah STY membangun timnas dan sepak bola di Indonesia memberikan harapan besar kepada publik bola di Indonesia dengan menghantarkan timnas hingga round empat kualifikasi Piala Dunia 2026, sampai akhirnya “digagalkan” oleh PSSI melalui pemilihan Patrick Kluivert untuk menukangi timnas Indonesia.
Dengan adanya hal di atas, pendukung timnas jadi terbelah. Ada yang masih pro STY (masyarakat pecinta sepak bola Indonesia) dan pro Kluivert (buzzer).
Penunjukkan Kluivert sendiri merupakan “blunder” terbesar yang dilakukan oleh PSSI. Melihat hal itu, John Herdman tentu belum mengenal kultur sepak bola di Indonesia, dia harus mulai mengenal banyak sepak bola Indonesia, dan itu bukan waktu yang singkat (mengingat kontraknya yang hanya 2 tahun).
Penulis juga berpendapat, PSSI seharusnya belajar dari Sejarah. Sejauh ini, pelatih yang sukses dengan pencapaian tertinggi (dengan raihan juara meraih medali emas dalam menukangi timnas Indonesia adalah Anatoly Polosin (Rusia) tahun 1987-1991 meraih Emas SEA Games 1991 di Manila.
Kemudian ada nama Shin Tae-yong (Korea Selatan) tahun 2019-2025, dia membawa timnas Indonesia mencapai runner up Piala AFF tahun 2020, lolos ke Piala Asia tahun 2023, kualifikasi Piala Dunia 2026 hingga putaran ketiga. Pelatih lokal yang sukses, ada Sinyo Aliandoe yang nyaris membawa Indonesia ke Piala Dunia 1986 di Meksiko dan Indra Sjafri yang membawa pulang medali Emas SEA Games 2023.
Kalau pelatih asal daratan Inggris, dalam sejarahnya melatih di Indonesia, tidak ada yang sukses, terakhir ada nama Peter Withe (Inggris) dan Simon McMenemy (Skotlandia).
Rekam jejak kepelatihan John Herdman ialah membawa Timnas Kanada sendiri bisa tampil di Piala Dunia tahun ini juga karena menjadi tuan rumah, bersama Amerika Serikat dan Meksiko. Pencapaian tertingginya, membawa timnas wanita meraih medali perunggu Olimpiade tahun 2012 dan 2016, lalu perempat final Piala Dunia Wanita FIFA tahun 2015. Lalu di sepak bola putra, membawa timnas Kanada lolos ke Piala Dunia tahun 2022 untuk pertama kalinya dalam 36 tahun.
Tak bisa diabaikan, kalau kualitas pemain Kanada yang mumpuni ditambah dengan polesan dari John Herdman sendiri menjadi catatan pribadinya. Salah satu pemain timnas Kanada yang juga tampil membela klub Bayern Munich adalah Alphonso Davies.
Dengan target ke Piala Dunia 2034 dan 2038 yang dicanangkan oleh PSSI melalui salah satu Exconya, pertanyaannya, John yang hanya dikontrak 2 tahun, apakah bisa membawa Indonesia sampai ke Piala Dunia di dua tahun tersebut?.
FIFA memberikan kesempatan bagi 48 negara untuk bisa tampil di Piala Dunia tahun ini. Bagaimana dengan tahun-tahun berikutnya? Sejalan dengan target PSSI untuk meloloskan Indonesia ke Piala Dunia tahun 2034 dan 2038. Apakah bisa memenuhi harapan itu?
Stamina dan teknik dasar yang menjadi batu ganjalan dari para pelatih asing saat melihat pemain sepak bola Indonesia, juga menjadi poin penting. Hal itu sudah dilakukan oleh Shin Tae-yong sebelumnya.
Tanpa harus menggurui dan mengecilkan PSSI, menurut pendapat saya, seharusnya PSSI memilih pelatih dari lingkungan Asia. Penulis bukan pendukung STY, tapi kenyataannya seperti itu. Dia (STY) sukses membuat pondasi kuat untuk timnas Indonesia dengan menerapkan latihan dasar sepak bola dan penguatan fisik para pemain. Jangan lupa juga, hanya dia yang berani memotong satu generasi pemain timnas Indonesia.
Pemilihan John Herdman ini jangan sampai hanya jadi jalan tengah PSSI untuk meredam “kebisingan” suporter sepak bola yang sudah membentuk dua kubu. Kubu Shin Tae-yong — STY (masyarakat umum sepak bola Indonesia) dan kubu Patrick Kluivert (buzzer). John yang berasal dari Inggris (melatih Kanada, benua Amerika) menjadi jalan tengah buat federasi untuk meredam kubu Asia (STY) dan Patrick yang dari Eropa.
Dengan misi untuk kembali mempersatukan suara suporter sepak bola Indonesia yang sudah terpecah belah. Pesan untuk John Herdman selamat bertugas melatih tim nasional negara besar seperti Indonesia, semoga tidak terjadi lagi STY jilid kedua di kemudian hari. Konflik kepentingan dalam kubu PSSI yang masih terus membayangi. Jangan sampai dalam pekerjaannya, dia “diusik” oleh tangan-tangan yang ada di federasi.
Kini, apakah dia akan mengambil jalan kompromi atau bertindak tegas dalam tugasnya. Karena pelatih punya kewenangan khusus yang hanya dimilikinya, yakni membangun sebuah tim nasional Indonesia yang hebat. Pilihannya ada di tangan Herdman. *










