Ketika mesin birokrasi mengalami kemacetan, “Tiga Batu Tungku” membuktikan bahwa ‘solidaritas organik’ merupakan benteng terakhir yang memastikan kehidupan warga tetap berjalan.
Namun, sebagaimana diingatkan oleh para ahli kebijakan publik, ketangguhan warga ini seharusnya tidak menjadi alasan bagi negara untuk melakukan “pembiaran yang nyaman”, melainkan harus dibaca sebagai kritik tajam agar otoritas terkait segera menyelaraskan ritme kerja mereka dengan urgensi kebutuhan di akar rumput.
Langkah swadaya masyarakat Tendaleo memang ‘membanggakan’. Namun tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk terus berlepas tangan. Swadaya adalah solusi darurat, bukan sistem permanen. Perbaikan jalan dan jembatan tetap merupakan tanggung jawab konstitusional pemerintah yang dibiayai oleh pajak rakyat.
Peristiwa di Tendaleo sejatinya adalah bunyi lonceng yang bergema di selasar sunyi kantor birokrasi, sebuah alarm bagi otoritas di Kabupaten Ende bahwa nyawa tak boleh digadaikan demi selembar kertas administrasi.
Di atas aspal yang terkelupas, kita belajar bahwa keselamatan warga tidak boleh terbelenggu oleh prosedur yang berbelit, karena setiap detik keterlambatan adalah taruhan bagi raga yang melintas.
Janganlah kita menunggu air mata tumpah ke bumi hanya untuk menggerakkan roda kebijakan, sebab infrastruktur tidak sebatas pada urusan semen dan batu, melainkan janji perlindungan negara bagi setiap derap langkah rakyatnya.
Aksi swadaya di Dusun Tendaleo adalah sebuah ‘puisi kemandirian’ sekaligus monumen batas kesabaran rakyat yang bergerak dalam kedaulatan di atas tanah leluhur mereka.
Namun, sungguh sebuah ironi jika nyala api gotong royong ini berkobar hanya karena dipicu oleh rasa putus asa terhadap dinginnya respons penguasa.
Biarlah momentum ini menjadi cermin bagi pemerintah untuk segera “mengolah kebijakan” dengan ketulusan yang murni, menyelaraskan langkah secepat jemari warga Tendaleo yang merajut deker mereka.
Sebab pada akhirnya, kedaulatan sejati adalah ketika negara hadir sebelum rakyat merasa ditinggalkan sendirian dalam kepasrahan.*
Halaman : 1 2










