Oleh: Ansel Atasoge
DI TENGAH gegap gempita pembangunan nasional, suara lirih dari Lingko Lolok, Manggarai Timur, mengusik nurani kita. Puluhan pelajar di desa terpencil itu berjalan kaki setiap hari melewati jalan rusak parah, menanjak dan berlumpur.
Tujuan mereka satu: meraih satu hal yang paling mendasar, pendidikan. Mereka bukan sekadar melangkah menuju sekolah, mereka sedang menapaki ziarah harapan yang penuh luka. Jalan yang mereka lalui bukan hanya fisik, tetapi simbol dari jalan panjang bangsa ini menuju keadilan sosial.
Perjuangan anak-anak Lingko Lolok adalah cerminan dari eksistensi manusia yang terus mencari makna dalam penderitaan.
Seperti yang dikatakan Viktor Frankl, manusia bukan hanya bertahan hidup, tetapi mencari makna di dalamnya. Jalan rusak itu menjadi medan kontemplasi: apakah negara benar-benar hadir di tempat-tempat yang paling membutuhkan? Apakah pembangunan hanya milik kota dan kebutuhan data statistik, sementara desa-desa seperti Lingko Lolok dibiarkan berjalan sendiri dalam sunyi?
Kehadiran Pastor Mansuetus Hariman yang menyapa anak-anak dengan motivasi dan bombon kecil adalah tindakan pastoral yang melampaui liturgi. Ia hadir sebagai suara profetis, mengingatkan bahwa spiritualitas sejati adalah keberpihakan pada yang lemah. Gereja, dalam hal ini, menjadi ruang advokasi yang menghidupkan harapan.
Di Lingko Lolok, jalan rusak bukan sekadar hambatan fisik. Ia adalah metafora dari harapan yang terhambat. Anak-anak yang berjalan kaki melewati lumpur dan tanjakan ekstrem setiap hari demi pendidikan, sedang menapaki ziarah masa depan yang penuh tantangan.
Jalan itu adalah urat nadi kehidupan, tempat di mana mimpi ditanam dan cita-cita tumbuh. Ketika akses pendidikan terhalang oleh batu dan lumpur, maka yang rusak bukan hanya jalan, tetapi juga kepercayaan rakyat terhadap negara. Dalam konteks ini, pembangunan bukan sekadar soal beton dan aspal, tetapi soal keadilan dan keberpihakan.
Bangsa dan negara ini tahu bahwa akses terhadap pendidikan dasar adalah fondasi utama dalam pengembangan sumber daya manusia dan kemajuan bangsa.
Ketimpangan infrastruktur, kekurangan tenaga pengajar, serta hambatan ekonomi dan budaya menjadi faktor utama yang menghambat partisipasi anak dalam pendidikan.
Ketika negara gagal menjamin akses yang layak bagi anak-anak di daerah terpencil, maka yang terancam bukan hanya masa depan individu, tetapi juga daya saing bangsa.
Lingko Lolok telah bersuara lewat langkah-langkah kecil yang penuh makna. Publik terajak untuk merenung: apakah kita masih mampu mendengar suara dari pinggiran? Apakah kita masih memiliki keberanian untuk menjadikan pembangunan sebagai ziarah bersama, bukan sekadar agenda politik? Lingko Lolok telah berbicara. Kini giliran kita menjawab. ***










