Oleh: Anselmus DW Atasoge
MUSIK sering hadir sebagai bahasa universal yang melampaui batas kata. Kelompok Fanfare Keuskupan Larantuka adalah wujud nyata dari bahasa itu.
Mereka menghadirkan bunyi tiupan dan dentuman ritmis yang menghibur serentak menggemakan ‘pengalaman estetis’ yang menyentuh batin. Tidak berlebihan jika dikatakan keberadaan kelompok ini sebagai perjumpaan antara harmoni, keteraturan, dan makna.
Plato, sang filsuf Yunani, pernah menyingkapkan bahwa keindahan lahir dari keteraturan dan keseimbangan, dan gema Fanfare Keuskupan Larantuka seakan menjadi perwujudannya: komposisi musik yang tertata rapi, di mana setiap instrumen menemukan takdirnya sendiri.
Tiupan trompet yang menggelegar, gesekan klarinet yang lembut, serta hentakan drum yang mantap berpadu dalam satu tarikan napas musikal, menenun jalinan rasa keterhubungan yang melampaui sekadar bunyi.
Dalam harmoni itu, keindahan tampil bukan hanya sebagai abstraksi yang jauh di langit ide, melainkan sebagai pengalaman nyata yang menyentuh, mengikat hati, dan menyalakan percikan rohani dalam diri setiap pendengarnya.
Sementara itu, Friedrich Schiller, filsuf Jerman yang dalam Letters on the Aesthetic Education of Man menegaskan bahwa seni adalah jalan menuju kebebasan batin, seakan berbicara melalui dentuman Fanfare Keuskupan Larantuka.
Musik fanfare membuka ruang bagi jiwa untuk mengekspresikan iman dengan sukacita, membiarkan setiap nada menjadi luapan semangat yang menggerakkan tubuh dan jiwa.
Tiupan trompet, gesekan klarinet, dan hentakan drum berpadu dalam irama yang bukan sekadar bunyi, melainkan perayaan hidup yang membebaskan.
Di dalam harmoni itu, manusia menemukan kebebasan untuk bersukacita, menari, dan merayakan kehidupan, seolah seni sendiri menjadi pintu menuju ruang batin yang merdeka.
Di titik lain, Hans-Georg Gadamer, filsuf Jerman yang menekankan seni sebagai jalan menuju pengalaman transendensi, seakan menemukan gema pemikirannya dalam Fanfare Keuskupan Larantuka.
Musik mereka, yang mengiringi prosesi liturgi maupun perayaan iman, menjelma menjadi alunan yang mengisi jalan-jalan kota Larantuka dan ruang-ruang di mana pun mereka hadir.
Tiap nada bergema sebagai bunyi yang menggemakan tarikan rohani yang mengangkat hati umat beriman menuju pengalaman ilahi.
Dalam harmoni itu, keindahan musik tampil sebagai jembatan yang menghubungkan dunia manusia dengan misteri yang lebih tinggi, membuka horizon di mana iman dan seni berpadu dalam cahaya transendensi.
Sejatinya, keindahan yang ‘diciptakan fanfare’ tidak berhenti pada estetika bunyi. Ia menjadi perekat sosial yang menyatukan umat dari berbagai latar. Anak muda, orang tua, dan seluruh komunitas menemukan kebanggaan bersama dalam irama yang dimainkan.
Musik fanfare menjadi tanda bahwa iman tidak hanya dirayakan dalam doa hening, tetapi juga dalam dentuman yang menggugah semangat kolektif.
Di titik ini, kelompok Fanfare Keuskupan Larantuka adalah wajah keindahan yang hidup. Mereka menunjukkan bahwa estetika yang tidak lari jauh dari kehidupan.
Ia hadir dalam irama yang menggerakkan, dalam harmoni yang menyatukan, dan dalam simbol yang mengangkat hati menuju yang transenden.
Di tengah dunia yang sering diliputi kegaduhan, fanfare ini mengingatkan bahwa keindahan merupakan ‘jalan menuju persaudaraan dan iman yang penuh sukacita’. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










