Estetika Identitas dan Kebersamaan (segelas nesface untuk Festival Musik Etnik Lamaholot)

- Jurnalis

Sabtu, 29 November 2025 - 07:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

DI pelataran Asam Satu Beach, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, pada Kamis 4 Desember 2025 pukul 17.00 WITA, akan bergema Festival Musik Etnik Lamaholot yang menghadirkan musisi lokal, sanggar seni, dan komunitas budaya.

Peristiwa ini menjelma sebagai denyut kehidupan yang menyalakan kembali irama tradisi, di mana gong, suling bambu, dan vokal khas Lamaholot berpadu menjadi bahasa keindahan.

Di tepi laut yang memantulkan cahaya senja, festival ini menjanjikan pengalaman estetis yang merangkul identitas dan kebersamaan, seolah setiap nada adalah doa yang mengikat manusia, alam, dan leluhur dalam satu harmoni puitis.

Baca Juga :  ‘Presidensi untuk Semua’ dan Ikhtiar Menjaga Martabat Manusia

Festival tersebut diselenggarakan oleh Komunitas Cisilia Ina Gelekat (CIG) dengan dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Nusa Tenggara Timur. Ia menjadi wadah kolaborasi antara komunitas lokal dan lembaga pelestarian budaya.

Selain sebagai hiburan, kehadiran festival ini juga dipandang sebagai ‘ruang estetis’ yang memperlihatkan bagaimana musik tradisional Lamaholot menjadi ekspresi identitas, kebersamaan, dan warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Flores Timur.

Dari perspektif filsafat estetika, festival ini menghadirkan ruang di mana musik tradisional tidak berhenti pada ‘fungsi sosial’, melainkan menjadi ‘pengalaman eksistensial’.

Immanuel Kant dalam Critique of Judgment menjelaskan bahwa pengalaman estetis muncul ketika seseorang menghadapi sebuah karya seni lalu merasakan kesenangan yang tidak bergantung pada fungsi praktis atau kepentingan pribadi.

Baca Juga :  Afrizal dan Kibaran Harapan

Kenikmatan itu lahir dari kontemplasi atas bentuk, yakni perhatian penuh pada harmoni, proporsi, dan struktur yang ditampilkan.

Kontemplasi berarti sikap merenung tanpa tujuan ‘utilitarian’. Misalnya, ketika mendengar musik etnik Lamaholot, pendengar membiarkan dirinya terserap dalam alunan ritme dan melodi tanpa menimbang manfaat praktisnya.

Bentuk dalam estetika Kantian merujuk pada susunan yang dapat ditangkap oleh indera, seperti pola bunyi, keseimbangan instrumen, atau komposisi gerak dalam pertunjukan.

Berita Terkait

BENTARA NET: Tahbisan Uskup, Ruang Sakral dan Rekat Sosial
BENTARA NET: Jejak Kreativitas dan Urgensi Pengarsipan Karya
BENTARA NET: Arsip Statis dan Memori Kolektif
BENTARA NET: Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Krisis Ganda
‘Presidensi untuk Semua’ dan Ikhtiar Menjaga Martabat Manusia
BENTARA NET: Euforia Petasan
BENTARA NET: Menambal Jalan, Menambal Harapan (catatan tentang Aksi Swadaya Tendaleo)
Menata Ekonomi Lokal
Berita ini 62 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 09:59 WITA

BENTARA NET: Tahbisan Uskup, Ruang Sakral dan Rekat Sosial

Sabtu, 31 Januari 2026 - 08:35 WITA

BENTARA NET: Jejak Kreativitas dan Urgensi Pengarsipan Karya

Sabtu, 24 Januari 2026 - 09:38 WITA

BENTARA NET: Arsip Statis dan Memori Kolektif

Sabtu, 17 Januari 2026 - 08:37 WITA

BENTARA NET: Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Krisis Ganda

Sabtu, 10 Januari 2026 - 08:21 WITA

‘Presidensi untuk Semua’ dan Ikhtiar Menjaga Martabat Manusia

Berita Terbaru

Wartawan Manggarai Barat bagikan Semabko.

Nusa Bunga

HPN 2026, PWMB Serahkan Sembako kepada Warga Menjaga

Senin, 9 Feb 2026 - 11:08 WITA

Opini

Pers, Pelita Abadi dan Wahyu Keindahan

Senin, 9 Feb 2026 - 08:23 WITA