Bahasa dan Peluang Global - FloresPos Net - Page 2

Bahasa dan Peluang Global

- Jurnalis

Senin, 24 November 2025 - 09:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zefirinus Kada Lewoema

Zefirinus Kada Lewoema

Metode pengajaran bahasa Inggris yang berfokus pada tata bahasa (grammar) dan evaluasi struktural di sekolah pada masa lalu acapkali meninggalkan pengalaman belajar yang tidak menyenangkan.

Banyak orang dewasa membawa memori itu hingga sekarang, sehingga pembelajaran bahasa asing kerap dipandang sebagai proses yang menekan dan menakutkan.

Reaksi Publik terhadap Pembelajaran Bahasa

Dalam praktiknya, respons masyarakat terhadap upaya penguatan kompetensi bahasa asing sangat beragam. Dari hasil observasi yang saya lakukan ketika memperkenalkan salah satu Bahasa asing di Eropa di akun media social saya, terdapat berragam tanggapan.

Ada followers yang yang memberi respon dengan frasa “bikin lidah terbelit”, ada yang merasa terlalu tua untuk memulai, dan ada pula yang menganggapnya tidak relevan. Kabar baiknya; banyak juga followers saya yang memilih belajar diam-diam, tanpa mengekspresikan diri di ruang publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa resistensi yang muncul tidak sepenuhnya mencerminkan penolakan substantif, tetapi lebih merupakan refleksi dari pengalaman dan persepsi masa lalu.

Baca Juga :  Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)

Modal Linguistik Lokal

Masyarakat Flores sesungguhnya memiliki modal linguistik yang kuat. Banyak warga terbiasa menggunakan dua hingga lima bahasa lokal secara aktif dalam kehidupan sehari-hari.

Di kalangan masyarakat Boru di perbatasan Flores Timur-Sikka, misalnya, penggunaan bahasa Lamaholot (dengan banyak variannya), Nagi, Muhang, dan bahkan bahasa Sikka berlangsung secara bergantian sesuai konteks sosial, sementara Bahasa Indonesia menjadi instrumen formal.

Pola serupa dapat ditemukan di Manggarai, Riung, Ngada, Nagekeo, Ende, Lio, Sikka, dan wilayah lainnya. Dalam kajian linguistik, kondisi ini dikenal sebagai poliglotisme, yaitu kemampuan menggunakan lebih dari dua bahasa secara aktif.

Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa adaptasi linguistik merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat Flores. Dengan demikian, hambatan terbesar bukan terletak pada kapasitas linguistik dasar, tetapi lebih pada sikap dan persepsi diri masyarakat terhadap bahasa asing.

Baca Juga :  Resistensi terhadap “Kejayaan Kebohongan” (Catatan Jelang Tahun 2026)

Bahasa asing belum memberi dampak nyata dalam komunikasi inter personal. Nelson Mandela pernah bilang begini: “If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart-Jika kau bicara dengan seseorang menggunakan bahasa yang ia pahami, pesanmu singgah di kepalanya. Jika kau bicara dengan seseorang menggunakan bahasanya sendiri, pesanmu menembus hatinya.”

Tuntutan Kompetitif di Tingkat Global

Tuntutan multilingualisme terlihat jelas dalam dunia kerja internasional. Sebagai contoh, ketika saya menulis artikel ini, saya baru saja berbincang dengan rekan saya yang berkebangsaan Yunani.

Berita Terkait

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Berita ini 142 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Berita Terbaru