Metode pengajaran bahasa Inggris yang berfokus pada tata bahasa (grammar) dan evaluasi struktural di sekolah pada masa lalu acapkali meninggalkan pengalaman belajar yang tidak menyenangkan.
Banyak orang dewasa membawa memori itu hingga sekarang, sehingga pembelajaran bahasa asing kerap dipandang sebagai proses yang menekan dan menakutkan.
Reaksi Publik terhadap Pembelajaran Bahasa
Dalam praktiknya, respons masyarakat terhadap upaya penguatan kompetensi bahasa asing sangat beragam. Dari hasil observasi yang saya lakukan ketika memperkenalkan salah satu Bahasa asing di Eropa di akun media social saya, terdapat berragam tanggapan.
Ada followers yang yang memberi respon dengan frasa “bikin lidah terbelit”, ada yang merasa terlalu tua untuk memulai, dan ada pula yang menganggapnya tidak relevan. Kabar baiknya; banyak juga followers saya yang memilih belajar diam-diam, tanpa mengekspresikan diri di ruang publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa resistensi yang muncul tidak sepenuhnya mencerminkan penolakan substantif, tetapi lebih merupakan refleksi dari pengalaman dan persepsi masa lalu.
Modal Linguistik Lokal
Masyarakat Flores sesungguhnya memiliki modal linguistik yang kuat. Banyak warga terbiasa menggunakan dua hingga lima bahasa lokal secara aktif dalam kehidupan sehari-hari.
Di kalangan masyarakat Boru di perbatasan Flores Timur-Sikka, misalnya, penggunaan bahasa Lamaholot (dengan banyak variannya), Nagi, Muhang, dan bahkan bahasa Sikka berlangsung secara bergantian sesuai konteks sosial, sementara Bahasa Indonesia menjadi instrumen formal.
Pola serupa dapat ditemukan di Manggarai, Riung, Ngada, Nagekeo, Ende, Lio, Sikka, dan wilayah lainnya. Dalam kajian linguistik, kondisi ini dikenal sebagai poliglotisme, yaitu kemampuan menggunakan lebih dari dua bahasa secara aktif.
Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa adaptasi linguistik merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat Flores. Dengan demikian, hambatan terbesar bukan terletak pada kapasitas linguistik dasar, tetapi lebih pada sikap dan persepsi diri masyarakat terhadap bahasa asing.
Bahasa asing belum memberi dampak nyata dalam komunikasi inter personal. Nelson Mandela pernah bilang begini: “If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart-Jika kau bicara dengan seseorang menggunakan bahasa yang ia pahami, pesanmu singgah di kepalanya. Jika kau bicara dengan seseorang menggunakan bahasanya sendiri, pesanmu menembus hatinya.”
Tuntutan Kompetitif di Tingkat Global
Tuntutan multilingualisme terlihat jelas dalam dunia kerja internasional. Sebagai contoh, ketika saya menulis artikel ini, saya baru saja berbincang dengan rekan saya yang berkebangsaan Yunani.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










