“Festival yang dijalankan selama ini merupakan jembatan persaudaraan lintas iman. Saudara-saudari kita yang Muslim, Protestan, Hindu, dan kepercayaan lain tidak melihat kita sebagai ancaman, tetapi sebagai sahabat.”
“Mereka membantu kita, melayani kita, berdoa bersama kita dengan cara mereka. Ini adalah Gereja sinodal dalam aksi nyata berjalan bersama, bukan sendirian; membangun, bukan memisahkan; merangkul, bukan menolak,” kata Uskup Siprianus.
Uskup Sipri Hormat juga menggarisbawahi tiga pelajaran dari Bunda Maria untuk perjalanan umat manusia.
Pertama, Maria Bunda Doa: Kesatuan yang Melahirkan Mukjizat. Dalam Kisah Para Rasul, kita melihat Maria sebagai ibu rohani yang mengajarkan Gereja cara berdoa. Ia tidak memimpin doa dengan suara keras, tetapi dengan kehadiran yang menyatukan. Kehadirannya mengubah sekelompok orang yang ketakutan menjadi komunitas yang sehati.
Santo Yohanes Krisostomus mengamati: “Lihatlah bagaimana para rasul berkumpul bersama Maria! Mereka tidak malu untuk belajar dari seorang perempuan tentang cara berdoa, karena mereka tahu bahwa ia adalah guru doa yang terbaik.”
Pesan pastoral: Festival Maria ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah panggilan untuk memperbaharui cara kita berdoa bersama.
Di katedral ini, kita merayakan Ekaristi sebagai satu keluarga. Sebentar lagi, kita akan berjalan bersama ke Golo Curu bukan sebagai kelompok-kelompok yang terpisah, tetapi sebagai satu umat yang sehati. Ketika kita tiba di bukit doa itu, biarlah doa kita bersatu seperti para rasul di ruang atas: satu napas, satu hati, satu kerinduan.
Maria mengajarkan kita bahwa doa sejati lahir dari kesatuan hati, bukan dari keseragaman gerakan.
Kedua, Maria Bunda Iman: Keberanian Mengatakan “Ya” Di Nazaret, Maria menunjukkan bahwa iman bukan soal mengerti segala sesuatu, tetapi soal berani mempercayai Allah meskipun tidak mengerti segalanya. Ia tidak menunggu sampai semua pertanyaannya terjawab. Ia mengatakan “ya” dalam iman.
Pesan pastoral: Kita hidup di zaman yang penuh ketidakpastian. Pandemi covid, misalnya, telah mengajarkan kita bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi. Tetapi seperti Maria, kita dipanggil untuk mengatakan “ya” kepada Allah dalam setiap keadaan:
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya













