Di tengah keragaman etnis, agama, dan budaya Indonesia, MBG berpotensi menjadi perekat sosial. Ketika anak-anak dari berbagai latar belakang duduk bersama menikmati makanan bergizi di sekolah, mereka tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga pengalaman, nilai, dan harapan.
Program ini memperkuat rasa memiliki terhadap institusi publik dan memperkuat kepercayaan terhadap negara sebagai pelindung semua warga, sehingga berkontribusi pada kohesi nasional yang lebih kuat.
Namun, MBG juga menghadapi tantangan sosiologis yang tidak ringan. Seperti yang diungkapkan dalam laporan Florespos.net (2025/09/17), pelaksanaan MBG di Manggarai Barat terkendala bahan baku pangan lokal, terutama sayur dan sumber protein. Ini bukan sekadar masalah logistik, melainkan cerminan dari struktur ekonomi lokal yang belum sepenuhnya mendukung ketahanan pangan berbasis komunitas.
Adalah menjadi lebih baik jika kendala tersebut ini tidak hanya dilihat sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk membangun ekosistem pangan yang berkelanjutan.
Mengintegrasikan petani lokal, koperasi, dan komunitas-komunitas lokal dalam rantai pasok MBG akan memperkuat ekonomi lokal sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap program ini.
Kenyataan-kenyataan ini menantang kita untuk memikirkan kembali gagasan tentang etika publik. Salah satunya, bagaimana negara hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai pelayan yang melalui Program MBG memposisikan anak-anak sebagai subjek masa depan bangsa.
Negara tentu tidak mau dibilang hanya sekedar membangun mimpi itu dari sisi teknokratik melainkan mengemban misi mentransformasi masa depan peradaban ke-Indonesia-an kita. Titik starnya bermula dari dalam diri anak-anak yang mendapat sentuhan program itu. *
Halaman : 1 2










