Lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh berbagai kongregasi gerejani di Flores pada akhirnya membentuk karakter lulusan yang memiliki keluasan pengetahuan dan kedalaman nilai.
Kita tentu saja tidak bisa menghalau kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang basisnya adalah data. Tetapi juga kita tidak bisa tidak mesti merawat identitas dan kokoh dalam kesadaran (diri) yang basisnya adalah nilai.
Kedua aspek ini semestinya dan seharusnya saling melengkapi, keluasan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kedalaman nilai akan melahirkan fundamentalis tanpa hati. Sedangkan mengandalkan kedalaman nilai tanpa keluasan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menciptakan kepatuhan tanpa akal.
Berbagai persoalan yang kini tengah kita alami seperti hilangnya kepercayaan kepada pemimpin, perilaku korupsi yang merajalela serta berbagai tindakan kejahatan kemanusiaan dan ekologi sesungguhnya dalam analisis penulis adalah hilangnya rasa malu dan takut yang basisnya adalah nilai.
Selain itu juga ketidaktahuan (inkompetensi) yang basinya adalah data juga menjadi kendala yang juga berpotensi melahirkan kebijakan dan tindakan yang tidak menyentuh pada substansi masalah, yang pada akhirnya mengorbankan kesejahteraan umum.
Bias orientasi pemimpin karena kelemahan intelektual dan merosotnya nilai dalam diri, menyebabkan pemimpin tunduk pada oligarki yang basisnya adalah uang.
Tentu saja kita tidak bisa menyalahkan perihal merosotnya nilai dan kelemahan intelektual kepada oknum ataupun komunitas tertentu. Tetapi setidaknya kita mesti memiliki harapan bahwa pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun pendidikan nilai menjadi kemendesakan untuk menatap masa depan Indonesia pada umumnya dan Flores pada khususnya.
Tanpa harapan kita hanya akan jatuh pada nostalgia bahwa Flores pernah mendidik dan melahirkan sosok-sosok se-kaliber Frans Seda, Daniel Dhakidae, Ignas Kleden, hingga Goris Keraf untuk Indonesia.
Sekolah-sekolah berasrama dengan disiplin komunitas yang kuat tentu menjadi harapan yang harus terus dikobarkan untuk pembangunan manusia modern.
Lingkungan sosial masyarakat yang mengedepankan musyawarah-mufakat dan gotong-royong serta intervensi budaya (nilai) perlu dihidupkan kembali guna mengembalikan hilangnya solidaritas ke-timuran karena maraknya individualitas ke-baratan.
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










