Namun, tragedi ini juga mengungkap celah besar dalam sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan. Warga di Desa Aewoe, misalnya, terjebak di kompleks BPP Pertanian karena banjir datang tiba-tiba dan mengepung dari dua arah, sementara upaya penyelamatan dengan tali gagal akibat derasnya arus.
Ini menandakan bahwa tanpa pemetaan risiko yang partisipatif dan teknologi pelacak seperti Displacement Tracking Matrix (DTM), evakuasi bisa menjadi mustahil. Padahal, DTM yang digunakan oleh IOM Indonesia mampu memantau pergerakan warga terdampak secara real-time dan membantu distribusi bantuan secara lebih adil dan efisien.
Dari kisah Mauponggo, kita bisa belajar bahwa kesiapsiagaan yang efektif di Mauponggo seharusnya menggabungkan kearifan lokal seperti pengetahuan warga tentang pola hujan dan aliran Sungai dengan pendidikan kebencanaan sejak dini di lembaga pendidikan dan institusi keagamaan, serta pelatihan evakuasi komunitas yang melibatkan tokoh adat dan pemuka agama.
Pemerintah daerah dan lembaga sipil perlu membangun sistem peringatan dini berbasis komunitas yang bisa menjangkau desa-desa terpencil seperti Woloede dan Sawu, yang akses jalannya terputus total saat banjir. Jika kita ingin bencana berikutnya tidak menjadi tragedi berulang, maka investasi terbesar harus dilakukan bukan hanya pada alat, tetapi pada manusia dan komunitasnya.
Ketiga, respon kemanusiaan adalah cermin dari nilai-nilai kita sebagai bangsa. Ia bukan hanya soal distribusi logistik, tetapi juga tentang bagaimana kita memulihkan martabat manusia.
Bantuan psikososial, pemulihan mata pencaharian, dan rekonstruksi spiritual harus menjadi bagian dari paket tanggap darurat. Ketika gereja, masjid, dan sekolah rusak, kita tidak hanya kehilangan bangunan, tetapi juga ruang harapan.
Karenanya, respon kemanusiaan harus bersifat lintas sektor dan lintas iman, menjadikan setiap warga terdampak sebagai subjek pemulihan, bukan sekadar penerima bantuan.
Dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian iklim dan geologi, kita membutuhkan paradigma baru dari reaktif menjadi proaktif, dari teknokratis menjadi humanis.
Bencana tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan jika kesiapsiagaan menjadi budaya dan respon kemanusiaan menjadi panggilan nurani. Di tengah reruntuhan, kita bisa membangun ulang bukan hanya rumah, tetapi juga nilai-nilai kebangsaan yang lebih inklusif, tangguh, dan berbelas kasih.*
Alumni Program ‘Building Resilience’ YPPS atas Dukungan Oxfam GB
Halaman : 1 2










