Apakah kematian Vian Ruma, aktivis tolak geothermal ini menjadi teror dari para penikmat dan pembohong dalam proyek geothermal? Dalam dunia aktivis, kematian aktivis merupakan teror kemanusiaan paling besar. Kalau kematian seorang manusia dijadikan teror bagi perjuangan kemanusiaan, betapa jahatnya orang yang rela menumbalkan nyawa sesama manusia.
Apakah penumbal itu akan tidur nyenyak? Apakah kematian aktivis akan mengakhiri gelombang penolakan geothermal? Tidak!!! Perjuangan menolak geothermal akan lebih membandang lagi. Banyak kasus sudah membuktikan bahwa penghilangan nyawa tidak pernah menyurutkan apalagi menghentikan gelora perjuangan.
Kematian Vian Ruma menjadi refleksi bagi umat Keuskupan Agung Ende (KAE). Andaikan benar bahwa Vian Ruma meninggal secara mengenaskan karena komitmen dan totalitasnya dalam mengaplikasikan seruan tolak geothermal dari Uskup Agung Ende, Paul budi Kleden, maka momen ini menjadi ruang untuk mengeratkan kesatuan dan merapatkan barisan perjuangan.
Momen tragis ini mesti mengilhami seluruh aparat Gereja KAE agar lebih total dalam menghidupi dan memperjuangkan sikap dan komitmen Gereja Katolik Nusra untuk menjaga keutuhan hidup dan merawat kelestarian alam lingkungan.
Seruan ini lebih dialamtkan kepada elite pimpinan gereja KAE di Kevikepan Bajawa agar lebih total dalam komitmen bersama seluruh umat dalam menjaga tanah Ngada dari penghancuran lebih masif. Umat di Kevikepan Bajawa khususnya wilayah sekitar Mataloko pasti lebih tahu komitmen para gembalanya dalam proyek geothermal ini.
Kita mendoakan keselamatan jiwa Vian Ruma dan kekuatan iman bagi keluarga di di Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo. Harapannya: Polres Nagekeo membuka tabir kematian ini secara benar dan adil.
Kiranya darah Vian Ruma semakin membandangkan gelora perjuangan umat di KAE khususnya Kevikepan Mbay untuk menolak geothermal, monster penjahat lingkungan yang berdaya rusak masif. *
Penulis, Jurnalis, Pendiri Oring Literasi Lembata










