Aktivitasnya masih sebatas advokasi pendidikan dan peningkatan kapasitas anak muda. Apakah orang yang berjuang menjaga keutuhan hidup dan merawat lingkungan mesti mengalami tragedi kejahatan kemanusiaan? Apakah tangan yang melilit tali pada leher Vian Ruma itu tidak gemetar dengan dentuman suara hati yang memukul dadanya?
Proyek geothermal ini disebut energi terbarukan. Tapi publik di Flores dan Lembata sadar bahwa itu kampanye murahan, bohong dan tidak benar. Hal yang pasti adalah bumi, tanah dilubangi, jelas ada kerusakan alam, ada kehancuran lingkungan, ada kebun dan sawah yang dikorbankan, ada rumah dan perkampungan yang digusur, ada manusia konkret yang dipaksa berpindah.
Lalu “terbarukan” di mananya? Kita minta pemerintah (provinsi dan kabupaten) bersama anteknya PLN agar berhenti menipu rakyat dan stop mengampanye kerusakan alam dan kehancuran kehidupan.
Event Tour de EnTeTe 2025 diduga didukung oleh dua perusahaan geothermal sebagai sponsornya. Publik tidak tahu berapa dana yang disumbangkan oleh perusak lingkungan di Flores ini. Bahkan ada dana sebesar 5 miliar dari Bank NTT yang selama ini banyak masalahnya. Mungkin saja ada banyak manfaat dari tour tapi harap bukan kampanye geothermal dengan bersembunmyi di balik dua penjahat lingkungan Flores ini.
Kita berharap kepolisian Nagekeo membuka tabir kematian ini melalui kinerja yang profesional dan berkeadilan. Aktivis geothermal memang melekat dalam diri dan perjuangan.
Keluarga dan publik Nagekeo mesti diberitahu oleh polisi: siapa yang berani melilit tali sepatu di leher Vian Ruma? Siapa yang tega menekuk lutut Vian Ruma di atas lantai bambu dari pondok itu sehingga mengamankan tali sepatu agar tidak putus?
Telepon seluler milik korban yang tergeletak rapih dekat jasadnya itu bisa menjadi gerbang hukum untuk menyibak tabir kematian kelam ini.
Sekali lagi, mutu dan profesionalisme aparat penegak hukum khusus Polres Nagekeo sangat diuji dalam kasus ini.
Proyek geothermal melibatkan penguasa politik dan pengusaha serta institusi beruang banyak seperti PLN. Mungkin juga uang itu hasil mengutang dari pihak lain. Kita berharap polisi khususnya Kapolres Nagekeo tidak hanya “gertak sambal” saja.
Kasus ini merupakan pertarungan kekuasaan dan uang yang dahsyat, kalau benar dugaan bahwa predikat “aktivis geothermal” menjadi alasan penghentian hidup Vian Ruma. Sebuah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa.
Darah Vian Ruma tidak tinggal diam. Bercak darahnya di pondok itu akan terus berteriak dan mencari pembunuhnya, termasuk pihak-pihak elite yang bersekongkol menutup bau busuk kasus kejahatan kemanusiaan ini.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










