Tak sedikit juga Menteri dan Wakil Menteri merangkap jabatan sementara itu, TNI aktif masih saja sibuk mengurusi ranah sipil.
Demonstrasi dan kritik publik yang tak lain merupakan bentuk keprihatinan warga malah diperhadapkan dengan aksi represi aparat.
Tak hanya menembakkan gas air mata, kali ini kendaraan taktis Brimob menabrak dan melindas pengemudi ojek online OJOL menyebab satu di antaranya meninggal dunia.
“Kekerasan adalah cerminan sikap Pemerintah dalam merespons kritik publik. Polri terus melanggengkan wajah lama yang represif, dan anti-demokrasi. Jargon Polri sebagai institusi sipil yang humanis hanya omong kosong,” tegas mahasiswa.
Mahasiswa Cipayung Sikka dan BEM Unimof mengatakan, padahal reformasi institusi kepolisian adalah cita-cita yang paling diharapkan dalam reformasi pasca-Orde Baru.
Berangkat dari persoalan diatas, kami Cipayung Sikka yang terdiri dari IMM, GMNI, HMI dan BEM Universitas Muhammadiyah Maumere mendesak hentikan seluruh sikap represif dari aparat dalam menangani demonstrasi rakyat.
Mahasiswa juga menuntut batalkan UU TNI Nomor 3 Tahun 2025 serta menjunjung tinggi konstitusi, demokrasi, negara hukum, dan supremasi sipil.
Hentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena hanya menjadi beban APBN dan menuntut agar DPR mengutamakan aspirasi rakyat dan membuka ruang dialog atas tuntutan pembahasan kenaikan tunjangan fantastis DPR yang menyakiti hati rakyat.
“Menuntut Polri bertanggung jawab atas peristiwa tewasnya Almarhum Affan Kurniawan (Driver Ojol) akibat terlindas mobil rantis Brimob, serta memecat oknum-oknum Polri yang terlibat dalam kasus tersebut,” tegas mereka.
Mahasiswa juga menuntut reformasi di tubuh Polri dengan menegaskan kembali tugas fungsi Polri mengayomi dan melindungi masyarakat, bukan jadi tameng para pejabat dalam menindas rakyat.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










