Perdagangan Manusia dan Akuntabilitas Politik - FloresPos Net - Page 2

Perdagangan Manusia dan Akuntabilitas Politik

- Jurnalis

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 11:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Polykarp Ulin Agan

Polykarp Ulin Agan

Dari sudut pandang akuntabilitas politik, negara dan lembaga hukum memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa perdagangan manusia tidak memiliki ruang untuk eksis.

Gagasan revolusioner Rousseau ini menegaskan bahwa perlindungan kelembagaan bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan prasyarat mutlak untuk memastikan bahwa kebebasan dan kesetaraan tidak bisa diperdagangkan.

Dengan demikian, perdagangan manusia bukan hanya persoalan kriminalitas atau moral individual, tetapi juga cerminan kegagalan struktural dalam politik dan hukum.

Perspektif Rousseau menantang kita untuk memahami bahwa setiap upaya menegakkan akuntabilitas politik—dari hukum yang tegas hingga pengawasan publik yang kritis—adalah langkah untuk memastikan bahwa kebebasan dan martabat manusia tetap tak tergoyahkan.

Baca Juga :  Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Melawan perdagangan manusia berarti memperkuat perjanjian sosial itu sendiri, menegaskan bahwa manusia bukanlah milik siapa pun, melainkan subjek utama dalam dunia yang adil dan setara.

NTT dan Kontrak Sosial yang Dikhianati

Situasi perdagangan manusia di NTT memperlihatkan bagaimana kegagalan politik dan hukum dapat membuka ruang bagi praktik yang meniadakan martabat manusia. Banyak kasus menunjukkan bahwa warga NTT, khususnya perempuan dan anak-anak, diperdagangkan melalui jalur migrasi ilegal dengan dalih kesempatan kerja.

Ketidaksetaraan sosial-ekonomi yang tajam—kemiskinan struktural, minimnya akses pendidikan, dan ketergantungan pada jaringan perekrut—menciptakan kondisi yang persis digambarkan Rousseau sebagai konsekuensi dari ketimpangan sosial.

Baca Juga :  Cinta Vs Kentut Sosial

Ketika negara absen dalam menyediakan perlindungan dan akses yang adil terhadap sumber daya, individu yang rentan terpaksa menyerahkan kebebasan mereka kepada pihak yang lebih kuat.

Dalam kerangka Rousseau, kondisi ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap kontrak sosial, sebab masyarakat dan negara gagal melindungi martabat warganya dari eksploitasi.

Lebih jauh lagi, maraknya perdagangan manusia di NTT juga memperlihatkan lemahnya akuntabilitas politik. Kasus-kasus yang berulang sering kali tidak ditindak dengan tegas, atau bahkan tersangkut dengan praktik korupsi dan keterlibatan aktor-aktor berkuasa.

Berita Terkait

Demokrasi Desa yang Bermartabat
Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional
Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama
Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?
Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?
Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan
Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si
Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ
Berita ini 368 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:08 WITA

Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:30 WITA

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:40 WITA

Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:05 WITA

Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Kuasa Hukum Pemilik Kos Tanggapi Pernyataan Satpol PP Ende

Jumat, 17 Jul 2026 - 20:12 WITA