Kita dukung duet Tote Badeoda-Domi Mere membuka horizon baru birokrasi Ende. Sebuah kebijakan tanpa campur tangan keluarga, tim sukses, legislator, kontraktor dan politik balas dendam.
Kekuasaan masa lalu berjalan ugal-ugalan karena campur tangan keluarga, tim sukses, legislator (wajah-wajah lama itu masih ada di DPRD) dan politik balas dendam melalui penempatan ASN yang memecah keutuhan hidup keluarga.
Duet ini mesti menjadi pemersatu bagi seluruh komponen Kabupaten Ende agar berpartisipasi dalam pembangunan. Tiap orang menyumbang bagiannya (Latin:pars) demi Ende sare Lio pawe.
Ungkapan ini mesti dibumikan tetap dengan sikap kritis sebagai tanda nurani tetap terjaga. Hanya orang bijaksana yang mampu mengemban kepercayaan rakyat sebagai tanda orang beriman.
Pemimpin bijaksana selalu dikendalikan oleh hati nurani rakyat. Segala masukan dari segenap komponen khususnya dari institusi agama mesti menjadi pertimbangan matang untuk melahirkan sebuah keputusan bijaksana.
Rakyat mesti selalu dimuliakan. Tidak hanya dalam pidato-pidato yang ditulis orang lain. Tapi melalui bahasa sederhana ala kampung tapi berdaya menembus dinding nurani kemanusiaan rakyat kecil.
Bahasa rakyat itu mesti dijelmakan dalam tindakan konkret. Jalan raya yang baik, air minum bersih tersedia, listrik yang tidak pada terus menerus (bukan perusahaan lilin negara), pasar rakyat yang bersih, pelayanan rumah sakit yang humanis, lingkungan hidup yang utuh terjaga (dulu Gunung Meja mau dijadikan taman Bougenvile) dan sebagainya.
Kita berharap agar duet Tote Badeoda-Domi Mere menghadirkan harapan baru bagi Ende. Pemerintahan dijalankan berbasis akal sehat yang dituntun hati nurani. Keduanya mesti menjadi “seniman bijak” yang melahirkan karya besar karena “berkarib dengan surga.” *
Penulis, Jurnalis, Pendiri Oring Literasi Lembata










