Lebih baik membangun Ende dengan rasa sakit masa lalu yang dibuka dengan jujur ketimbang membangun sebuah masa depan berbasis slogan kosong di atas bangkai busuk masa lalu yang dikubur tergesa-gesa.
Sudah saatnya Ende tidak lagi menjadi sekadar area timbunan masalah tanpa solusi. Kita mesti bilang ini dengan jujur karena wajah-wajah masa lalu yang berandil sangat besar dalam pembusukan birokrasi, legislatif bahkan yudikatif masih bersarang, baik di birokrasi, tetapi terutama di DPRD.
Pemimpin Baru Ende, Tote Badeoda-Domi Mere merupakan perlawanan kreatif-bijaksana atas fakta kelam itu. Keduanya tidak hanya sekadar menjadi simbol perlawanan tapi juga menghadirkan harapan baru melalui penataan birokrasi sebagai antitese birokrasi Ende periode lama yang ugal-ugalan.
Konflik gagasan dengan anggota DPRD Ende perihal dana Pokir merupakan sebuah perlawanan terhadap dominasi segelintir orang yang bersembunyi di balik aturan dan regulasi seputar Pokir yang pasti mereka hafal karena memang sesuai dengan hasratnya.
Maka ketika bupati dan wakil bupati mengajak mereka keluar dari zona nyaman kuasa itu, untuk memuliakan rakyat, kursi DPRD pasti dilanda tsunami politik. Publik kritis mesti mengingatkan DPRD bahwa regulasi itu bukan barang sakral. Sepuluh perintah Allah saja mudah dilanggar dengan sederet alasan.
Regulasi buatan manusia pasti sarat kepentingan karena diproduksi oleh sesama mereka yang bermuatan politik kepentingan. Orang bijak selalu menempatkan regulasi di atas konteks riil. Bukan mengabaikan realitas hanya untuk melayani hasrat yang dibalut regulasi.
Perlawanan birokratif ini merupakan upaya intelektual untuk membawa pulang hati nurani anggota DPRD agar tidak melupakan rakyat yang hidup miskin dan sengsara. Perlawanan itu merupakan ajakan kemanusiaan bagi anggota DPRD agar segera pulang ke hati nurani rakyat yang menjadi substansi keberadaannya.
Penyair Wiji Thukul berkata, saat rakyat bersembunyi dan berbisik-bisik ketika membicarakan masalahnya sendiri, penguasa (DPRD) harus waspada dan belajar mendengar. Bila rakyat berani mengeluh, itu artinya sudah gawat.
Gerakan perlawanan rakyat di Indonesia selalu bermula dari bisikan, keluhan dan teriakan kemarahan rakyat yang perutnya lapar menyaksikan anggota DPRD sibuk memperbesar perutnya sendiri. Rupanya orang-orang ini setelah memakai dasi kehilangan urat malu saat memamerkan bongkahan perutnya yang mendadak menggelembung.
Rakyat punya kekuatan sendiri untuk menyingkirkan orang-orang lupa daratan ini menjadi manusia gembel yang mengumpulkan kulit kemiri di pinggir jalan umum.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










