Memulihkan Narasi: Dari ‘Spreadsheet’ Menuju ‘Eudaimonia’ - FloresPos Net

Memulihkan Narasi: Dari ‘Spreadsheet’ Menuju ‘Eudaimonia’

- Jurnalis

Selasa, 19 Agustus 2025 - 14:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

DI TENGAH riuhnya perdebatan publik mengenai pernyataan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, yang menyebut guru sebagai “beban negara”, kita dihadapkan pada pilihan: apakah kita akan membiarkan narasi ini menjadi bara yang membakar emosi, atau menjadikannya bara yang menghangatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan?

Saya coba mengurainya biar tidak lari lewat secara serampangan yang pada akhirnya dapat membuat ricuh dunia maya dan dunia nyata.

Secara fiskal, kata “beban” sering digunakan dalam konteks anggaran negara untuk merujuk pada pengeluaran rutin.

Dari sisi ini, kata itu tidak bertendensi sebagai bentuk keluhan, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab negara terhadap rakyatnya. Dalam konteks pernyataan Menteri Keuangan, guru memang termasuk dalam komponen belanja negara. Namun, tetap diberi catatan bahwa menyederhanakan guru sebagai “beban” tanpa memahami kontribusi mereka secara holistik adalah reduksi yang menyesatkan.

Mungkin maksud ‘sang menteri bukan untuk merendahkan’. Mungkin Beliau sedang mengajak segenap komponen bangsa untuk masuk ke kedalaman jiwa dan bertanya: bagaimana kita bisa memastikan bahwa investasi terhadap guru benar-benar menghasilkan transformasi sosial, bukan sekadar pengeluaran rutin?

Bagi saya, guru bukanlah beban, melainkan ‘benih peradaban’. Dalam pandangan Paulo Freire, pendidikan adalah praktik pembebasan. Dan, guru adalah aktor utama dalam proses ini. Mereka hadir dengan misi membebaskan manusia dari kebodohan, ketidakadilan, dan ketidakberdayaan.

Baca Juga :  Hentikan Perdagangan Orang di Indonesia

Dalam kerangka Aristotelian, guru adalah penjaga eudaimonia masyarakat yakni kebahagiaan yang dicapai melalui kebajikan dan pengetahuan. Dari perspektif ini bolehlah dikatakan negara yang memandang guru sebagai beban, sejatinya sedang mengabaikan akar dari kebajikan publik.

Namun, hemat saya, alih-alih membalas pernyataan ‘Bu Menteri’ dengan amarah atau ejekan yang justru memperkeruh suasana, marilah kita ubah narasi ini menjadi ajakan kolektif untuk memperkuat martabat pendidikan. Idealisme itu bisa kita mulai dengan permenungan tentang peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru agar mereka sungguh menjadi agen perubahan, bukan sekadar pelaksana kurikulum.

Juga bisa dengan mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam anggaran pendidikan agar setiap rupiah yang dialokasikan menjadi investasi yang berdampak bagi masa depan bangsa. Atau, dengan mengajak para pejabat publik untuk lebih bijak dalam berkomunikasi, agar setiap kata yang terucap bukan melukai, melainkan membangun harapan dan kepercayaan publik. Di balik hal-hal semacam ini, dalam iklim dialog yang sehat, kritik pun dapat menjadi benih pembaruan.

Dalam filsafat dialogis Martin Buber, relasi antar manusia harus dibangun dalam kerangka ‘I-Thou’. Sebuah kerangka berpikir tentang relasi yang menghargai martabat dan kedalaman eksistensi. Dalam konteks tulisan ini, guru bukanlah angka dalam ‘spreadsheet’, melainkan pribadi yang membentuk masa depan bangsa.

Baca Juga :  Paham Sosialisme dalam Terang Rerum Novarum

Dari titik ini, ketika kita mendengar pernyataan yang tampak menyakitkan, adalah lebih memungkinkan untuk kebaikan bersama adalah tidak langsung membalasnya dengan caci maki yang tak tertahankan.

Sebaliknya, kita ajak semua pihak untuk berdialog, bertanya, dan membangun pemahaman bersama. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari konflik, melainkan bangsa yang mampu mengolah konflik menjadi kebijakan yang bijak.

Kebanyakan kita ‘mungkin saja’ mau diskusi lebih lanjut tentang hal ini. Tak tertutup kemungkinan untuk hal ini. Namun, kata dan jari kita perlu sedikit dibendung untuk tidak bergerak sebebas-bebasnya sebelum disharing dengan lebih bijak.

Dengan itu, ‘bisa jadi’ juga ‘Bu Menteri’ akan bisa memahaminya lebih integral bahwa ‘guru sedang berbeban berat’ untuk menghadirkan dirinya sebagai ‘eudaimonia masyarakat’.

Kehadirannya inilah yang patut dipikirkan negara tidak hanya dengan kata-kata ‘entengan’ (ringan). Mungkin di sinilah ‘titik beban yang berat’ itu.*

Penulis, adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Privasi di Ujung Jari: Siapa Mengendalikan Data Kita?
Menimang Kekuatan Fakta dan Tafsir dalam Menentukan Arah Kebijakan
Melampaui Heroisme: Gereja, Truk-F, dan Perjuangan Membebaskan Flores dari Perdagangan Manusia
Epifani Spiritual Akibat Bencana Digital (Analisis Sastra-Filosofis atas Puisi Joko Pinurbo)
Minimnya Pandangan Pemerintah Manggarai Timur terhadap Masyarakat Kurang Mampu
Bansos dan Ilusi Kepedulian: Wajah Lain Politik Bantuan di Indonesia Timur
Surat Cinta untuk Nagekeo
Memulihkan Martabat, Membasuh Luka
Berita ini 155 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 20:18 WITA

Privasi di Ujung Jari: Siapa Mengendalikan Data Kita?

Jumat, 6 Maret 2026 - 08:30 WITA

Menimang Kekuatan Fakta dan Tafsir dalam Menentukan Arah Kebijakan

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:39 WITA

Melampaui Heroisme: Gereja, Truk-F, dan Perjuangan Membebaskan Flores dari Perdagangan Manusia

Selasa, 3 Maret 2026 - 11:10 WITA

Epifani Spiritual Akibat Bencana Digital (Analisis Sastra-Filosofis atas Puisi Joko Pinurbo)

Selasa, 3 Maret 2026 - 10:57 WITA

Minimnya Pandangan Pemerintah Manggarai Timur terhadap Masyarakat Kurang Mampu

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Wings Air Buka Rute Penerbangan Makasar-Maumere Tiga Kali Seminggu

Selasa, 10 Mar 2026 - 18:27 WITA

Nusa Bunga

Mendukung Pemberlakuan Kuota Kunjungan Wisatawan di TN Komodo

Selasa, 10 Mar 2026 - 12:06 WITA