Sepak Bola sebagai Medium Pembangunan Sosial dan Keadilan Wilayah - FloresPos Net

Sepak Bola sebagai Medium Pembangunan Sosial dan Keadilan Wilayah

- Jurnalis

Jumat, 1 Agustus 2025 - 13:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Patricius Marianus Botha, S.Fil.,M.Si

DALAM konteks pembangunan yang berkeadilan, El Tari Memorial Cup (ETMC) tidak semata-mata dipahami sebagai ajang kompetisi olahraga, melainkan sebagai instrumen sosial yang memiliki daya bangun struktural bagi masyarakat dan wilayah.

Ketika Kabupaten Ende ditetapkan sebagai tuan rumah ETMC 2025 oleh forum Asprov PSSI NTT, keputusan itu harus dimaknai sebagai bentuk pengakuan terhadap kapasitas lokal, partisipasi masyarakat, dan upaya mendorong distribusi pembangunan ke luar sentra-sentra kekuasaan olahraga yang dominan.

Dan kemudian muncul Keputusan untuk memindahkan perhelatan ini dari Ende, maka hal itu patut dikritisi secara sosiologis sebagai bentuk reproduksi ketimpangan struktural dan pengingkaran terhadap prinsip-prinsip keadilan sosial dalam pembangunan.

Sepak Bola sebagai Infrastruktur Sosial

Baca Juga :  Mencari Direktur PDAM Kota Kupang

Dalam pendekatan sosiologi pembangunan, infrastruktur tidak hanya mencakup jalan dan gedung, tetapi juga modal sosial, kultur kolektif, dan kapasitas komunitas.

Dalam hal ini, sepak bola telah menjadi bagian penting dari infrastruktur sosial masyarakat Ende. Dukungan fanatik terhadap Perse, partisipasi lintas usia dalam kegiatan olahraga, dan militansi komunitas suporter bukan hanya ekspresi hiburan, tetapi juga alat artikulasi identitas kolektif dan medium partisipasi warga dalam ruang publik.

Menyelenggarakan ETMC di Ende berarti mengakui dan memperkuat infrastruktur sosial tersebut, dan menjadikannya bagian dari strategi pembangunan berbasis kearifan lokal.

Pembangunan yang Inklusif dan Desentralistik.

Pembangunan yang adil menuntut distribusi kesempatan dan sumber daya ke seluruh wilayah, bukan hanya pada pusat-pusat ekonomi dan politik.

Baca Juga :  Pembelajaran Mendalam: Fondasi Baru Pendidikan Indonesia?

Gagasan ini sejalan dengan teori desentralisasi pembangunan dalam sosiologi yang menekankan pentingnya memberdayakan komunitas di tingkat lokal sebagai subjek pembangunan.

Dengan memindahkan ETMC dari Ende ke daerah lain yang mungkin lebih dominan secara ekonomi-politik, kita secara tidak langsung mereproduksi ketimpangan spasial—memusatkan infrastruktur, investasi, dan perhatian pada wilayah yang sudah kuat, sambil mengabaikan potensi daerah lain yang tengah berjuang membangun diri melalui partisipasi kolektif seperti olahraga.

Modal Sosial dan Kohesi Komunitas

Menurut Pierre Bourdieu, modal sosial mencakup jaringan, kepercayaan, dan solidaritas yang dimiliki kelompok sosial. Event seperti ETMC menciptakan ruang interaksi lintas komunitas yang memperkuat kohesi sosial dan integrasi antarwilayah di NTT.

Berita Terkait

Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi
Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)
Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola
Berita ini 185 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 19:17 WITA

Kritik Itu Vitaminnya Demokrasi

Kamis, 23 April 2026 - 09:10 WITA

Menenun Indonesia dari Kampung (Membidik Kampus Lokal sebagai Persemaian Intelektual)

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Selasa, 21 April 2026 - 12:07 WITA

Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna

Berita Terbaru