“Saya menghargai inisiatif Sanctory sebagai sarana pembinaan iman anak-anak. Syukur kalau sudah ada tanggapan seperti ini. Itu artinya dihargai, dilanjutkan, dan diusahakan,” tuturnya.
Kardinal Suharyo juga mengingatkan pentingnya membangun kerja sama yang konkret dan jangka panjang dengan berbagai elemen Gereja.
Kardinal Suharyo mengatakan Komisi Kateketik, Komisi Panggilan, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos), dan media Katolik lainnya, termasuk Sanctory, dapat bekerja sama demi memperluas jangkauan dan daya guna karya kerasulan ini.
“Kerja sama itu penting, meskipun kita tahu tidak mudah. Masing-masing punya wilayahnya sendiri, tapi kalau ada yang mau konkret dan berkelanjutan, itu akan sangat membantu,” tambahnya.
Sanctory adalah brand multimedia kreatif Katolik yang menghadirkan tokoh-tokoh orang kudus dalam bentuk untuk anak usia 6–12 tahun.
Melalui gaya visual yang ceria, penuh imajinasi, dan tetap setia pada nilai-nilai iman Katolik, Sanctory bertujuan menjadi jembatan yang menyenangkan antara anak-anak dan kekayaan spiritual Gereja.
Melalui tokoh-tokoh seperti Santo Benediktus, Santa Anna, Santo Fransiskus dari Assisi, dan banyak lagi, anak-anak diajak mengenal teladan hidup kudus secara menyenangkan dan menyentuh.
Karya-karya Sanctory dirancang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media katekese visual yang relevan dan aplikatif di tengah tantangan dunia digital dan isu sekularisme.
CEO Sanctory Deodatus Pradipto menuturkan Sanctory lahir dari keprihatinan terhadap minimnya materi visual Katolik yang cocok bagi anak-anak. Sanctory melihat anak-anak Katolik tidak memiliki bahan bacaan atau tontonan iman yang sesuai dengan usia dan cara berpikirnya.
Materi-materi katekese yang ada seringkali terlalu berat, kaku, bahkan tidak menarik.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










