“Kami melihat ada kesenjangan besar antara kebutuhan anak-anak Katolik akan cerita iman yang hidup dan ketersediaan bahan yang sesuai dengan dunia mereka. Sanctory hadir untuk menjawab celah itu,” ujar Deodatus.
Art Director Sanctory Brigitta Maria Loisa menambahkan sebagian besar materi katekese visual yang beredar saat ini tidak dirancang dari awal dengan pendekatan psikologi dan budaya visual anak-anak dan Sanctory ingin menyederhanakan materi katekese orang dewasa.
“Kami ingin membangun dunia cerita dan visual yang benar-benar berbicara dari dan untuk anak-anak,” tutur Brigitta.
Sanctory juga dibentuk dalam semangat kolaboratif seperti kata Deodatus pihaknya membuka diri untuk bekerja sama dengan paroki, sekolah, komunitas keluarga muda, serta berbagai komisi di lingkungan keuskupan.
“Kami ingin menjadi sahabat bagi Gereja dalam mendampingi anak-anak untuk mencintai Yesus dan iman Katoliknya sejak dini,” kata Deodatus.
Pertemuan bersama Ignatius Kardinal Suharyo menjadi momentum penting bagi Sanctory dalam meneguhkan misinya, yaitu menghadirkan sukacita iman melalui kisah-kisah orang kudus yang menyentuh dan membangkitkan semangat kekudusan pada anak-anak.
Sanctory percaya bila anak-anak disapa dengan cara yang sesuai dengan dunia mereka, penuh warna, tokoh yang menyenangkan, dan kisah yang menggugah, maka benih iman akan tumbuh kuat dan menyala hingga dewasa.
“Kami ingin anak-anak tahu bahwa menjadi orang kudus itu bisa dimulai dari hal kecil, dari usia mereka. Yesus itu dekat, tidak asing, tidak menyeramkan. Justru penuh cinta dan sukacita,” kata Deodatus. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










