MAUMERE, FLORESPOS.net-Budaya pesta pora dan hidup boros dalam masyarakat kembali disorot bukan hanya oleh Ketua KSP kopdit Pintu Air, tetapi oleh Uskup Maumere bahkan Wakil Bupati Sikka dalam peresmian Kantor Cabang KSP Kopdit Pintu Air Nangablo.
Ketua KSP Kopdit Pintu Air Yakobus Jano menggarisbawahi bahwa hidup boros dan budaya pesta pora akan membuat kita melarat dan keturunan kita pun akan tetap tidak akan berkembang karena ini tradisi yang diwarisi.
“Makanya Bapak uskup, Pak Wakil Bupati, momen ini, peresmian gedung ini harus mempunyai dampak ke depan. Saya hanya punya rumus ini saja, pendapatan kurang tabungan,” ujar Yakobus Jano, Rabu (15/4/2026).
Yakobus berpesan, meskipun pendapatan sedikit tetapi harus diusahakan menabung Rp5 ribu atau Rp10 ribu bahkan Rp20 ribu tidak jadi masalah asal ada pendapatan yang disisihkan untuk menabung.
Ia mengatakan, selama ini kan pendapatan kurang, tetapi pesta pora di mana-mana dan hal ini sudah dihimbau Bupati Sikka, Uskup Maumere juga lewat mimbar gereja.
“Tapi umat jawab apa?. Umat dalam hal ini anggota masyarakat, omong kami pesta pakai uang kami bukan pastor beri kami uang,” sesalnya.
Yakobus mengaku menjabat sebagai ketua lingkungan selama 34 tahun dan saat ini masih menjabat. “Ini kami pesta, kami beli uang, bukan pastor beli uang. Dan kebetulan saya juga ketua lingkungan sudah 34 tahun, omong juga persoalan ini.”
“Hal ini kiranya perlu kita sampaikan kepada masyarakat demi kebaikan kita bersama,” pesannya.
Uskup Maumere Mgr.Edwaldus Martinus Sedu dalam sambutan saat peresmian kantor koperasi ini juga menyampaikan persoalan serupa terkait budaya pesta di masyarakat.
Mgr Edwaldus menyesalkan gereja juga sudah mengharapkan agar umat bisa mengurangi budaya pesta tetapi kadang-kadang yang melanggar juga termasuk orang-orang yang mengerti atau berpendidikan.
“Bapa Uskup anak kami ini anak pertama. Kalau anak pertama ini kan paling kurang sambut barunya bisa pesta. Bahkan bisa tunda sampai 2 tahun menunggu untuk kesempatan itu,” ungkapnya.
Uskup Edwaldus menyebutkan, walaupun kadang-kadang pihak gereja ada sanksi dan sebagainya namun sebenarnya itu tidak bagus untuk kehidupan beriman kita, bahwa ada sanksi terhadap umat kita yang misalnya mau mengadakan pesta dan sebagainya.
Dirinya mengharapkan supaya hal ini menjadi perhatian sebab hal ini untuk kepentingan kita bersama, untuk kebahagiaan dari keluarga-keluarga kita sendiri.
Uskup Maumere mengakui gereja hanya bisa memberikan himbauan kepada umat agar mengurangi budaya pesta pora.
“Mudah-mudahan dengan adanya kantor KSP Kopdit Pintu Air yang baik di Nangablo ini, kita di Nangablo juga memperhatikan hal ini.Mudah-mudahan hadirnya kantor ini membawa berkat untuk kita semua, teristimewa untuk umat dan sesama saudara kita di Nangablo,” pesannya.
Sementara itu Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi juga menyampaikan hal serupa dan dirinya pernah melakukan penelitian di Kabupaten Sikka soal literasi keuangan keluarga.
Simon menjelaskan, dalam penelitian dirinya mengambil sampel di beberapa desa dan menghitung bagaimana pendapatan dan pengeluaran keluarga dalam sebulan dan setahun.
“Dalam setahun hanya dua bulan saja yang keuangannya plus sementara 10 bulan lainnya minus sebab pengeluarannya lebih besar dari pendapatan,” terangnya.
Simon mengakui, dirinya melihat rata-rata masyarakat kita di Provinsi NTT dalam setahun keuangannya minus 10 bulan sebab penghasilannya tidak ditabung terlebih dahulu.
Ia menyebutkan, masyarakat kita konsumsi didahulukan dan tidak pernah berpikir seperti orang di luar negeri yang pendapatannya dipotong untuk tabungan atau asuransi dahulu baru sisanya untuk konsumsi.
“Kita meminjam uang bukan untuk berusaha tetapi untuk pesta pora. Nanti sebentar lagi bulan Juni ada pesta sambut baru, pasti kita semua dapat banyak undangan,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










