Irigasi tetes merupakan sistem pemberian air pada tanaman dengan cara membiarkannya menetes secara perlahan ke akar, baik di permukaan tanah maupun langsung ke akar tanaman melalui jaringan pipa dan emitor.
“Saya menggunakan sistem irigasi tetes untuk menghemat air dan pupuk, serta menjaga kelembaban tanah di area perakaran. Saya lakukan modifikasi lagi sehingga biayanya lebih murah,” terang Erik.
Erik mengatakan sistem irigasi tetes sederhana yang dibuatnya dapat membantunya dalam kegiatan penyiraman sehingga lebih efektif menggunakan air dan juga hemat tenaga kerja.
Dirinya pun saban tahun menerima para pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Provinsi NTT yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan jangka waktu sebulan hingga tiga bulan.
“Sejak sekitar tahun 2017 atau 2018 saya sudah menerima pelajar dan mahasiswa untuk PKL sehingga kalau sampai dengan sekarang sekitar 7 sampai 8 tahun,” ungkapnya.
Erik mengatakan, awal bulan Mei 2025 ini permintaan tomat dan cabai keriting lumayan bagus dan pembeli pun langsung membeli di lahan pertaniannya.
Tpmat dijual dengan harga Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu per kilogramnya dan cabai keriting dilepas dengan harga Rp 55 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogramnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










