Sarjana Pertanian Universitas Nusa Nipa (Unipa) ini mengatakan,dirinya membuat terasering bangku dengan menggunakan bambu ataupun dari hasil gulma dan lain sebagainya yang harus digunakan untuk penguat.
Setelah itu lanjutnya, dilakukan pengolahan tanah sedemikian rupa sehingga membentuk terasering dan justru ketika melakukan konservasi terasering seperti ini, kita mengurangi laju atau erosi tanah.
“Sehingga walaupun di musim hujan, terasering dapat mengurangi aliran permukaan tanah yang diakibatkan oleh hujan,” jelasnya.
Budidaya Hortikultura
Selama ini jenis tanaman atau komoditi yang ditanam di lahan tersebut, hampir semua jenis komoditi hortikultura seperti aneka sayuran dan buah-buahan seperti semangka dan melon.
Erik mengakui, meski melakukan budidaya hortikultura di lahan miring, produktifitasnya sama saja dengan di lahan datar karena semuanya tergantung pemeliharaan tanaman terkait dengan teknis budidaya.
“Perlu diperhatikan pengolahan tanah, pemberian nutrisi atau pupuk, pengendalian hama penyakit dan juga penanganan panen dan pasca-panennya. Kalau untuk biaya pengolahan lahan, di lahan miring biaya awalnya lebih besar,” ungkapnya.
Erik melanjutkan, ketika kita sudah membentuk atau membuat lahan miring menjadi lahan datar, maka lahan tersebut akan sama dengan lahan datar pada umumnya.
Ia mengakui memang ada kesulitan budidaya hortikultura di daerah sebab terkendala cuaca dan curah hujan yang tinggi namun terkadang curah hujan juga tidak menentu akibat perubahan iklim.
“Untuk tahun ini curah hujannya bagus, sehingga kebutuhan air itu yang biasanya menggunakan air dari pipa Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) berkurang,” ungkapnya.
Irigasi Tetes
Lahan pertanian di Desa Ladogahar milik anak muda sarjana pertanian jebolan Unipa ini semuanya telah menggunakan irigasi tetes yang dimodifikasi sehingga membutuhkan biaya murah.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










