Sosok Stanis Dasing menjadi inspirasi, tidak saja bagi warga setempat, tetapi juga bagi masayarakat luas baik di bidang kependidikan, partisipasi dalam kehidupan menggereja, bidang seni, bidang literasi dasar khususnya membaca dan menulis, maupun bidang-bidang kehidupan bermasyarakat lainnya.
Sejarah mencatat, bahwa sosok Stanis Dasing merupakan salah satu dari dua siswa angkatan pertama dari SDK Leda Liur yang berhasil lolos masuk SMP Seminari Kisol dan yang bersangkutan tercatat juga sebagai siswa angkatan pertama Seminari Pius XII Kisol pada tahun 1955.
Satu siswa SDK Ledaliur lainnya yang juga tercatat sebagai angkatan pertama Seminari Pius XII Kisol bernama Aleks Sale (ayah dari Dr. Yohanes Don Bosco Doho).

Stanis Dasing bersama puluhan siswa dari pelbagai SD lainnya di Mangarai Raya bahkan dari wilayah lainya di Flores, termasuk siswa bernama Eduardus Sangsun yang kemudian menjadi Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Eduardus Sangsun, SVD. Beberapa angkatan pertama Sanpio lainnya adalah RD. Mikhael Wangku, dan RP.Aleks Ganggu, SVD (alm).
Selama di Kisol di bawah tempaan para pembina dan guru, terutama pendiri Sanpio yang juga Misonaris Kongregasi Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Allah asal Belanda RP. Leo Perik, SVD, Stanis Dasing, cs diajarkan pelbagai nilai-nilai akademik dan aneka keterampilan, termasuk keterampilan dalam berliterasi dasar yakni membaca dan menulis.
Selama mengenyam pendidikan di Sanpio, Stanis Dasing,cs menimba pengetahuan, baik dari materi pelajaran yang diberikan para guru, maupun dari aneka buku di perpustakaan sekolah yang wajib dibaca para seminaris.
Para seminaris membaca pelbagai buku baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia, maupun Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya.
Perihal kebiasan membaca aneka buku ini sudah membatin dalam sosok Stanis Dasing. Meski ia hanya menikmati pendidikan di seminari hanya sampai kelas II SMP yakni dari tahun 1955/1956 hingga 1956/1957, namun kebiasaan membaca buku terus dilanjutkannya saat ia melanjutkan pendidikan di SMP Mukun (1967/1958) hingga SGA Ruteng 1958-1961.
Budaya membacanya bahkan semakin meningkat ketika ia mengajar di pelbagai SD di Manggarai Raya seperti SDK Beo Kina (1961-1963), SDK Bea Nio (1962-1965), SDK Kai 1965-1970), dan SDK Leda Liur 1970-2002.
Semangat membaca ini terus digemakan dalam keseharian Stanis Dasing ketika ia menjalani masa pensiun sejak tahun 2002 hingga usianya mencapai 86 tahun saat ini.
Editor : Wentho Eliando










