Beberapa pastor di antaranya Reverendus Pater (RP) Henri Daros, SVD Mantan Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi SKM Dian; Reverendus Dominus (RD). Yosef Tarong; RD. Frans Do; RP. Servulus Isaak, SVD (Studi di Roma dan pernah menjadi Ketua IFTK Ledalero dan Ketua STKIP Santo Paulus Ruteng); RP. Paul Karmani, SVD (bertugas di Filipina) ; RD.Max Haber, RD. Dionisius Os Harjo, RD. Mansuetus Hariman.
Litania nama-nama di atas, semakin membuat saya jatuh cinta dengan keberadaan kampung tua ini.Kampung ini memang menghadirkan keunikan lainnya. Ya, kampung ini sudah menjadi perhatian warga dunia.Betapa tidak. Fakta menunjukkan bahwa nama Kampung ini sudah masuk di google.
Tak percaya, ayo mari kita buktikan. Coba Anda mencari atau mengetik di Google Lempang Paji. Usai mengetik, kita menemukan Nama Lempang Paji di Flores, NTT. Juga di sana muncul peta yang menyebutkan tiga nama yakni Waroekia, longkas, dan Leda.

Nama Kampung Lempang Paji dengan Bahasa Rembongnya memang memiliki keragaman budaya yang sangat unik. Keunikannya membuat salah satu dosen Universitas Nasional Singapura Maribeth Erb melakukan penelitian di sana pada era 90-an.
Hasil penelitian Dosen ini di antaranya terpublikasi dalam buku berjudul “Rituals of Respect in Rembong Manggarai Eastern Indonesia”.
Buku ini bercerita tentang aneka kehidupan sehari-hari warga tentang adat istiadat, pertanian, khususnya pertanian jagung dan padi, dan tentang keseharian warga yang dinilai sangat unik dan khas.
Keunikan Bahasa Rembong dan adat istiadatnya juga menarik minat RP. A.J. Verheijen (Regio SVD) untuk menulisnya yang dibukukan dengan judul Adat Istiadat Orang Rembong di Flores Barat (Regio SVD 1977).
Ya, demikianlah beberapa fakta yang membuka wawasan pembaca bagaimana Lempang Paji yang turut berkontribusi memajukan ilmu pengetahuan dunia, khususnya di bidang akademik dan karya pastoral.
Kampung Literasi
Selain aneka keunikan dan daya pikat peneliti dunia di atas, nama Lempang Paji juga sangat kental dengan locus pengembangan literasi dasar, khususnya literasi membaca.
Sosok yang konsisten mengembangkan literasi dasar di Kampung ini bernama Stanis Dasing.
Editor : Wentho Eliando










