Dengan program MBG ini tentu, jumlah sampah yang dihasilkan akan semakin banyak. Perlu ada mitigasi yang baik dari pemerintah untuk pengelolaan sampah dari program MBG.
Sampah bahan baku makanan, sampah saat proses memasak makanan, sampai makanan sisa siswa yang tidak dimakan. Kita tentu tidak boleh menyia-nyiakan makanan karena ada begitu banyak masyarakat lain yang kesusahan makan.
Untuk itu penambahan cita rasa pada MBG yang proporsional bisa membuat siswa menyantap MBG dengan lahap dan tidak ada makanan sisa. Perlu juga tempat pengolahan sampah yang baik untuk mengelola sampah dari program MBG.
Ketiga, kualitas gizi makanan. Dede Nasrullah, pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya mengingatkan penting untuk memperhatikan kualitas gizi makanan yang disajikan kepada siswa.
Seperti dilansir dari Detik.com, Dede menyarankan perlunya gizi seimbang dalam menu MBG yang diberikan kepada siswa. Gizi seimbang itu harus sesuai dengan standar makanan bergizi, terpenuhi protein, karbohidrat dan lemak.
Tentu anggaran yang diberikan oleh pemerintah pusat sudah sesuai dan telah dihitung untuk ketepatan menu yang memiliki gizi yang baik.
Untuk itu perlu juga memadukan menu makan dari bahan pokok di daerah masing-masing sehingga bisa lebih menggugah selera siswa untuk menyantap makanan.
Dengan gizi yang baik meskipun menu yang berbeda untuk setiap daerah tetapi harapan untuk perkembangan siswa akan tercapai.
Keempat, pelaku usaha kecil kantin sekolah. Dilansir dari Kompastv, para pelaku usaha kecil kantin sekolah merasa risau dengan program MBG ini.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










