Artinya, dengan beban yang tetap sementara tekanan di dalam pori menurun maka amblesan akan terjadi. Dalam kasus Mataloko, amblesan terjadi di areal yang cukup luas di areal persawahan masyarakat yang jaraknya 800-1000 meter dari lokasi pengeboran.
Amblesan di Mataloko disertai melubernya lumpur panas dan meningkatnya kadar Hidrogen Sulfida (H2S) di alam sehingga merusakan tanah pertanian, tanah menjadi kering dan tandus sehingga tidak dapat dijadikan lagi sebagai lahan pertanian.
Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa di daerah sekitar area amblesan dan semburan lumpur, sejumlah jenis tanaman mengalami kekeringan dan mati, dan yang menjadi tidak produktif karena tercemar senyawa H2S dan konamin lainnya.
Pohon dadap dan albisia tanaman pelindung banyak yang menjadi kering dan mati, kopi dan alpukat, kemiri, coklat, vanili dan sayuran mengalami penurunan produksi bahkan sama sekali tidak berproduksi lagi karena rusak.
Perbahan juga terjadi iklim lokal yang ditandai dengan meningkatnya curah hujan dan turunnya produksi tanaman pertanian, rusaknya rumah warga yang membuat mereka harus sesering mungkin menggantikan seng atap rumah.
Pada tahun 202, tercatat 1.579 rumah warga di sekitar area PLTP mengalami kerusakan, bahkan rumah-rumah ada yang berada pada jarak 2-3 km (Ario Jempau, Geothermal Flores dan Mitos Erngi Terbarukan, 2021).
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Selanjutnya










