BORONG, FLORESPOS.net-Hamparan lereng perbukitan Lando Lomes di Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dipastikan akan segera memanen porang.
Taksiran produksi porang bisa mencapai ratusan ton dengan kualitas terbaik milik petani dan sekaligus penggerak Agustinus Adil, keluarga, dan anggota kelompoknya, termasuk juga Romo Bernard Palus.
Beberapa wartawan sempat menjejakkan kaki pada kawasan pebukitan yang menghijau penuh dengan porang, Jumat (18/7/2024) atas bantuan Romo Bernard Palus.
Tanaman porang dengan penggerak utama Agustinus Adil, memang ditanam secara profesional. Porang ditanami pada teras-teras, diberi pupuk alami, dan ditandai sehingga diketahui ketika batang mengering dan hilang.
Pada areal milik Pastor Bernard Palus sempat dilakukan pengecekkan umbi porang yang ditanam tiga tahun lalu. Hasilnya satu umbi ketika ditimbang beratnya di atas 8 kilogram.
Pada beberapa petani lain, malah beratnya bisa mencapai 12 kilogram pada kawasan pebukitan yang dulunya padang belantara dan kini sudah dipadati aneka pepohonan dan tanaman pertanian atas usaha petani dari Kampung Lendo, Agustinus Adil seorang diri.
Petani Agustinus Adil mengatakan, dirinya, keluarga bersama kelompoknya mulai mati-matian menanam porang tahun-tahun yang lalu karena sudah melihat prospek ekonominya ke depan.
“Kami tanam saja walau dicibir banyak orang ketika itu. Kami tidak perduli dan terus tanam, tanam, dan tanam,” katanya.
Usaha tanam porang kian menjadi kuat ketika dirinya sempat ke Tokyo, Jepang untuk belajar kepemimpinan, termasuk lebih dekat belajar aneka usaha pertanian secara profesional, termasuk porang.
Ilmu dari Jepang dibawanya ke Indonesia dan dipraktikkan secara baik mulai persiapan lahan yang baik, bibit, perawatan, dan lain-lain.
“Ramalan saya booming porang tahun 2025. Tetapi, sepertinya datang lebih cepat, tahun ini. Dan, kami siap untuk penuhi kebutuhan porang dengan akan menanam lebih banyak lagi,” katanya.
Porang ini bagi Agustinus Adil seperti bank dalam tanah. Umbi ditanam dan dalam tanam umbi berkembang dan berbunga sendiri.
Hitungannya, modal yang hanya 20-30-an juta rupiah, ketika panen hasilnya bisa menembus angka di atas 500-an juta dan bahkan miliaran rupiah.
Dikatakan, panenan sekarang ini belum dimulai. Tetapi, pembongkaran umbi porang dipastikan pada Agustus ini karena sudah ada kepastian kedatangan investor yang membelinya.
Kepada masyarakat, pria yang pernah mendapat penghargaan tingkat Provinsi NTT itu, meminta untuk terus menanam porang dalam jumlah banyak. Prospek ekonominya bagus sekali untuk membuat hidup lebih baik.
Sedangkan penggerak dan sekaligus mativator Romo Bernard Palus mengatakan, porang itu merupakan kebutuhan dunia. Karena itu dicari-cari baik dalam dan luar negeri.
“Saya sudah lihat peluang itu. Karena itu, ketika jadi pastor paroki Mbata dan sekarang Kajong, saya terus motivasi umat untuk tanam porang,” katanya.
Porang demikian Pastor yang sering keluar masuk kebun umatnya itu, bisa diolah menjadi beras kualitas tinggi, kosmetik, obat-obatan, hingga pembersih kaca pesawat.
Untuk usaha, dirinya memberi contoh praktis dengan menanam porang di hamparan Lando Lomes dan porangnya kini siap panen.
Umat sekarang ini merasa tidak cukup hanya dengan berbicara atau berkhotbah. Tetapi, melakukan hal praktis yang baik bersama umat, terutama membangun ekonominya.
Agustinus dan juga masyarakat lain di Kampung Nonggu, Watu Rajong, Mbata, Galong, dan lain-lain sekarang ini mulai merasakan. Porang bisa langsung menjadi uang. Pembeli datang sendiri ke kampung-kampung setiap hari. *
Penulis: Christo Lawudin I Editor: Wentho Eliando










