Mediasi dan Restorative Justice Gagal Capai Kata Sepakat, PT. Krisrama Siap Lanjutkan Proses Hukum - FloresPos Net

Mediasi dan Restorative Justice Gagal Capai Kata Sepakat, PT. Krisrama Siap Lanjutkan Proses Hukum

- Jurnalis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAUMERE, FLORESPOS.net-Penyidik Subdit Ii Hardabangtah Ditreskrimum Polda NTT sedang melakukan penyidikan dugaan tindak pidana “memasuki pekarangan tanpa jin”, sebagaimana dirumuskan pads Pasal 167 ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 – e KUHP yang dilaporkan oleh Ephivanus M.Nale Rimo dengan tersangka Antonius Toni Cs.

Sehubungan dengan rujukan point aturan termasuk KUHAP serta menindaklanjuti kesimpulan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPR RI dengan tersangka IV atas nama Anton Yohanis Bala,SH maka diadakan mediasi di Polres Sikka.

“Undangan itu fokusnya kepada PT.Krisrama, saya selaku pelapor dan juga saudara Antonius Yohanis Bala selaku terlapor, tersangka,” sebut Romo Ephivanus M.Nale Rimo, Direktur Utama PT.Krisrama dalam konferensi pers, Jumat (19/6/2026).

Romo Ephy sapaannya menjelaskan, undangan mediasi dari Polda NTT berdasarkan hasil RDP, kesimpulan dari RDP Komisi III DPR RI dimana dianjurkan supaya dilakukan Restorative Justice (RJ).

Tetapi dalam pelaksanaan mediasi di Polres Sikka kata dia, pihak tersangka dengan timnya itu mencoba mengalihkan persoalan itu dan mengeluarkan dari tujuan bahkan syarat-syarat dari restorative justice.

Bahkan ada kesan, kedudukan rekomendasi Komisi III itu lebih tinggi daripada KUHAP atau peraturan perudang-undangan dan dalam RJ sendiri pihaknya sebagai korban akan mendengar dulu apa keinginan tersangka atau terlapor.

Baca Juga :  Mantan ODGJ Binaan Panti Rehabilitasi Santa Dymphna Maumere Lulus Cum Laude

“Berdasarkan undang-undang baru, inisiatif RJ itu harus ada pada pemohon. Pemohon itu ada pada yang tersangka, bukan pada kami selaku pelapor,” ungkapnya.

Dengan landasan itu, kata Romo Ephy,dirinya mengatakan bersedia karena memiliki tujuan baik dan sejak awal pihaknya memang mencari kedamaian, PT.Krisrama tidak pernah konflik.

Karena itu PT.Krisrama memberi waktu kepada terlapor lebih dahulu dan terlapor atau tersangka membantah bahwa dirinya tidak punya inisiatif untuk RJ sehingga pihak PT.Krisrama merasa bingung.

Dalam mediasi juga pihak Polda NTT menyampaikan bahwa meski berstatus tersangka tetapi saudara Antonius Yohanis Bala tidak ditahan.

“Sejak awal PT.Krisrama ini tidak pernah punya keinginan sedikitpun untuk menghukum orang atau memenjarakan orang.Tapi yang terjadi adalah kami bersama tim hukum sejak awal itu melakukan pendekatan persuasif dari rumah ke rumah,” tuturnya.

Lanjut Romo Ephy, PT.Krisrama melakukan berbagai upaya hingga melakukan somasi dan berniat supaya adanya perdamaian dan kalau memang ada pihak yang merasa ada konflik silahkan dibuktikan haknya selaku pemilik tanah.

Dirinya menambahkan, kalau para pihak tersebut bisa membuktikannya maka pihak PT.Krisrama iklas dan siap membatalkan sertifikat HGU yang diberikan oleh Kementrian ATR/BPN.

Baca Juga :  Gerakan Pangan Murah Serentak dari Polres Ende, 5 Ton Beras Ludes Dibeli Warga

“Tapi kan ternyata mereka tidak bisa membuktikan dan akibatnya ada pengrusakan.Beberapa yang masuk penjara itu bukan karena perbuatan dari PT.Krisrama, sama sekali tidak. Perbuatan merekalah yang membuat mereka berurusan dengan hukum dan masuk penjara,” terangnya.

Romo Ephy menegaskan, perbuatan merusak itu yang membuat mereka ada di penjara, merusak barang-barang milik PT.Krisrama dan yang terakhir sekarang itu ada perkara yang sedang berjalan itu tentang laporan penyerobotan.

Para pihak yang mengkalim sebagai pemilik tanah pun pernah melaporkan PT.Krisrama, memasukan gugatan perdata namun gugatan tersebut pun akhirnya dicabut.

“Kesepakatan tentang mediasi hari ini adalah bahwa dua belah pihak tidak sepakat.Sehingga, dengan demikian, dengan peristiwa hari ini, proses laporan kami untuk proses tersangka itu akan dilanjutkan. Karena proses itu dihentikan untuk sementara untuk proses permohonan RJ,” pungkasnya.

Restorative Justice atau Keadilan Restoratif adalah sebuah pendekatan dalam penyelesaian perkara pidana yang dilakukan melalui proses dialog dan mediasi antara pelaku, korban, serta pihak terkait lainnya.

Restorative Justice dalam KUHAP Baru sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 diatur dalam Pasal 79 sampai 88. *

Penulis : Ebed de Rosary

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Nusra Youth Day di Keuskupan Maumere Akan Dihadiri Ratusan OMK Dari 9 Keuskupan
Mediasi Pelapor dan Tersangka Oleh Polda NTT di Polres Sikka Terkait Perkara Pidana, Bukan Konflik Agraria
Musda IKAL Sukses, Romo Rony Neto Wuli Kembali Pimpin IKAL Lemhamnas NTT
Di Wolomoni Ende, Wapres Gibran Tegaskan Pembangunan KDMP Tak Boleh Korbankan yang Lain
Warga Setuju Pembangunan Galangan Kapal di Wairterang
Pembangunan Vila di Wairterang, Lokasinya Dahulu Kebun Warga
Bupati Ende Sebut Wapres RI Dengar Langsung Suara Ibu-Ibu di Desa, Mereka Butuh MBG
Thresher Shark Indonesia dan Pokmaswas Sando Minggo Ajak Mahasiswa IKTL Terlibat dalam Program The Conservation Champion
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:01 WITA

Nusra Youth Day di Keuskupan Maumere Akan Dihadiri Ratusan OMK Dari 9 Keuskupan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:45 WITA

Mediasi Pelapor dan Tersangka Oleh Polda NTT di Polres Sikka Terkait Perkara Pidana, Bukan Konflik Agraria

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:34 WITA

Mediasi dan Restorative Justice Gagal Capai Kata Sepakat, PT. Krisrama Siap Lanjutkan Proses Hukum

Jumat, 19 Juni 2026 - 19:45 WITA

Musda IKAL Sukses, Romo Rony Neto Wuli Kembali Pimpin IKAL Lemhamnas NTT

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:29 WITA

Warga Setuju Pembangunan Galangan Kapal di Wairterang

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Harapan di Meja Wapres Gibran

Sabtu, 20 Jun 2026 - 09:50 WITA