LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Petani Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) NTT khususnya, harus menjaga siklus dan keseimbangan alam, jangan basmi musuh alami tanaman.
Demikian Albertina Muku, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda pada Bidang Penyuluhan dan Proteksi Tanaman (PPT)Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar.
Muku sampaikan itu ketika berdiskusi dengan pengurus dan anggota Kelompok Tani (Poktan) Lestari Satu Desa Wae Wako, Kecamatan Lembor Mabar belum lama berselang di markas Poktan tersebut di persawahan Lembor. Poktan Lestari Satu bagian dari daerah irigasi (DI) Lembor-Mabar.
Menurut Muku, pentingnya menjaga siklus dan keseimbangan alam serta jangan basmi musuh alami tanaman, antara lain demi tidak terjadi ledakan populasi hama dan penyakit tanaman atau organisme pengganggu tanaman (OPT) pada tanaman padi sawah dan lain-lain.
Musuh alami tanaman (OPT) saling makan memakan. Dengan begitu akan terjadi keseimbangan alam, terjadi siklus rantai makanan.
Untuk itu pula, para petani juga diharapkan jangan selalu gunakan obat-obatan kimiawi untuk memberantas hama dan penyakit tanaman/OPT.
“Jangan setiap kali ada serangan hama-penyakit pakai pestisida (obat-obatan kimiawi). Kalau terus menerus begitu bisa kuras unsur hara tanah. Pestisida itu pilihan terakhir,” kata Muku.
Ia pun meminta petani kalau tanam padi secara serempak dengan pola jajar legowo. Ini terkait erat untuk menekan/ meminimalisasi serangan hama dan penyakit pada tanaman, ujar Muku.
Sarjana Pertanian yang eks guru SD 12 tahun itu juga menghimbau petani agar jangan melakukan alih fungsi lahan, karena kelak itu akan mengurangi lahan pertanian. Disamping Mbay-Nagekeo, Mabar salah satu sentra produksi padi/beras di NTT, tambah Muku.
Hadir kesempatan itu antara lain Kepala Bidang PPT pada DTPHP Mabar Fransiskus Juru, Ketua Poktan Lestari Satu Bonifasius Rohim dan anggota Poktan di antaranya Rofus Kawur.
Dilansir media ini sebelumnya, petani Manggarai Barat diajak budayakan tanam serempak, Kawur: tambahkan trakor. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










