RUTENG, FLORESPOS.net-Uskup Diosis Ruteng, Mgr. Sipri Hormat mengeluarkan surat gembala khusus untuk menyongsong Pemilu, 14 Februari 2024.
Surat gembala itu kiranya menjadi perhatian para pelaku politik dan umat keuskupan yang membawai tiga kabupaten, yakni Manggarai, Mabar, dan Matim dalam menyikapi dan menentukan pilihan nantinya.
Dalam kopian surat gembala yang diterima wartawan, Selasa (16/1/2024) dari Sekjen Keuskupan Ruteng, Rm. Manfred Habur, Uskup Sipri menyatakan, pesta demokrasi Pemilu, 14 Februari 2024 telah berada di ambang pintu.
“Saat itu kita akan memilih Presiden dan Wakil Presiden, serta para Wakil Rakyat dari pusat sampai daerah yang menentukan nasib bangsa ini,”katanya.
Oleh sebab itu, saya mengajak kita semua untuk berpartisipasi secara aktif, sesuai dengan hati nurani dalam Pemilu ini.
Konsili Vatikan II mendorong kita untuk menggunakan hak pilih secara bebas dan bertanggungjawab dalam memilih pemimpin bangsa yang berkomitmen terhadap kesejahteraan umum (bonum commune).
Dan, bukannya kepentingan keluarga (bonum familiae) atau kesejahteraan kelompok sendiri saja.
Dikatakan, dewasa ini kita sedang mengalami situasi kehidupan bangsa yang tidak mudah, yang diwarnai oleh empat tantangan besar.
Pertama, kemiskinan masih meliliti kehidupan banyak orang (di Manggarai Raya 20,78%, pada tahun 2022) dan kesulitan ekonomi yang dipicu oleh meningkatnya harga pangan.
Program Bansos memang perlu untuk mereka yang sedang berada dalam situasi darurat (emergency).
Tetapi hal ini mesti dibarengi oleh program untuk meningkatkan kemandirian dan menciptakan kesempatan kerja bagi generasi muda.
Tentu haruslah dihindari pula agar Bansos tidak dijadikan alat politik Pemilu oleh pihak tertentu.
Kedua, korupsi masih mewarnai kehidupan bangsa yang didukung oleh tergerusnya proses demokrasi.
Indeks korupsi Indonesia menurut Lembaga Transparansi Internasional meningkat dan berada di peringkat 110 dunia pada tahun 2022.
Sementara itu ada kesan bahwa tindakan hukum terhadap korupsi berciri tebang pilih.
Ironisnya justru tidak sedikit oknum penegak hukum yang terjerumus dalam penyalahgunaan wewenang dan perilaku korupsi.
Bapa Suci Paus Fransiskus mengkritik keras korupsi dan menyebutnya sebagai perilaku iblis, karena orang menyembah uang dan melawan Allah sebagai sumber kebahagiaan sejati.
Menurutnya, korupsi merupakan wabah sosial terburuk, karena orang mencari keuntungan pribadi dengan kedok melayani masyarakat.
Ketiga, perubahan iklim yang menimbulkan pemanasan global yang dasyat.
Fenomena ini kita alami secara nyata dalam perubahan cuaca dan kekeringan yang berakibat pada gagal tanam dan gagal panen produksi pertanian dan perkebunan, sumber utama kehidupan masyarakat kita.
Pemanasan global ini berdampak serius pada krisis pangan, krisis air, krisis energi dan krisis kemanusiaan.
Oleh karena itu Keuskupan Ruteng dalam tahun 2024 ini mengusung program pastoral Ekologi Integral HPS: Harmonis, Pedagogis, Sejahtera.
Yaitu gerakan bersama dengan semua pihak untuk melestarikan ibu bumi dan merawat semua mahkluk ciptaan.
Keempat, bonus demografi. Dalam tahun-tahun ke depan, kita akan mengalami peningkatan jumlah penduduk dengan usia kerja atau produktif (15-64 tahun) yang lebih banyak dari jumlah penduduk usia tidak produktif (lansia dan anak-anak).
Kondisi ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa melalui pasokan tenaga kerja produktif.
Peningkatan kuantitas ini tentu harus pula dibarengi oleh penguatan kualitas SDM, yang membutuhkan kapasitas kepemimpinan yang mumpuni.
Uskup Sipri tidak lupa mengajak agar kita bersama-sama terlibat mensukseskan Pemilu yang jujur, adil, bebas dan damai.
Uskup Sipri menurut Sekjen Romo Manfred Habur, menekankan secara khusus dan menugaskan para imam dan pimpinan umat di paroki, stasi, KBG, lembaga dan komunitas untuk mencerahkan umat.
“Dengan itu, umat dapat berpartisipasi dan memilih sesuai etika politik Kristiani dan prinsip Pancasila,” katanya.
Para klerus hendaknya memberi bantuan spiritual dan moral kepada umat yang memilih maupun calon yang berlaga dalam Pemilu.
Lalu, umat, khususnya kaum muda sebagai pemilih pemula, untuk memilih dengan hati nurani yang jernih.
Pilihlah pemimpin yang baik dan mampu, serta tidak mudah terbuai oleh gimik politik yang membius dan menipu.
Janganlah melupakan sejarah dan perhatikan secara cermat dan objektif rekam jejak setiap calon.*
Penulis: Christo Lawudin I Editor: Anton Harus










