MBAY, FLORESPOS.net-Gempa bumi tidak hanya merobohkan dinding dan atap rumah. Ia juga merenggut nyawa secara perlahan. Itulah yang dialami Kristina Soldina Dagomes (68), warga Kampung Ekoae, RT 29, Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.
Almarhumah meninggal dunia pada Rabu (19/8/2026) malam di RSUD Aeramo akibat syok dan drop kondisi setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Lebih pilu lagi, saat jenazah dipulangkan ke rumah, keluarga terpaksa membaringkannya di teras depan rumah. Sebab sebagian dinding rumah sudah roboh dan retak berat pascagempa.
Dari Stroke Ringan Hingga Drop Karena Syok Gempa
Menurut suami almarhumah, Opa Domi, sebelum gempa istrinya memang memiliki riwayat stroke ringan. Namun kondisinya masih bisa beraktivitas di rumah.
“Istrinya saya awalnya sakit stroke ringan. Tambah dia kaget gempa pada Sabtu (15/8) lalu. Almarhum drop pada Minggu (16/8) lalu Minggu sore diantar ke RSUD Aeramo,” ujar Opa Domi saat ditemui di kediamannya, Rabu (19/8/2026) malam.
Guncangan hebat dan suara gemuruh saat gempa membuat kondisi Kristina memburuk. Tekanan darah naik-turun, nafsu makan hilang, dan tubuhnya melemah.
Setelah 3 hari dirawat, almarhumah menghembuskan napas terakhir di RSUD Aeramo.
Jenazah Terbaring di Teras Karena Rumah Rusak
Duka keluarga belum selesai. Saat jenazah tiba di rumah duka, keluarga menghadapi kenyataan pahit. Rumah tempat mereka tinggal selama puluhan tahun kini tidak layak huni. Bagian dinding ambruk, sebagian lain retak besar.
“Almarhum harus di baring di luar rumah, di teras rumah, karena sebagian dinding rumahnya sudah roboh dan sebagian pada retak,” kata Opa Domi dengan mata berkaca-kaca.
Media yang berada di lokasi menyaksikan suasana duka yang menyelimuti keluarga. Tangis bercampur rasa takut. Sebab hingga malam itu gempa susulan masih terus terjadi.
Keluarga tidak berani masuk ke dalam rumah. Peti jenazah pun diletakkan di teras, dialasi tikar terpal dan ditutup kain, diterangi lampu listrik.
Dalam isak tangisnya, Opa Domi menyampaikan kekecewaannya. Hingga jenazah istrinya disemayamkan, belum ada pihak dari pemerintah yang datang.
“Hingga saat ini Pemerintah Desa Aeramo dan Pemda Nagekeo tidak pernah mendatangi keluarga korban,” ujarnya.
Warga sekitar bahu-membahu membantu. Menyiapkan tenda darurat, memasak, dan menjaga agar prosesi pemakaman bisa berjalan meski dalam keterbatasan. *
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando










