ENDE, FLORESPOS.net-Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto mendorong pemerintah Kabupaten Ende gerak cepat tangani masyarakat korban bencana gempa bumi Flores.
BNPB siap mendukung langkah cepat yang dilakukan oleh pemerintah daerah karena saat ini banyak masyarakat yang terdampak.
Saat Rapat Kordinasi dengan Pemkab Ende di posko tanggap darurat bencana kantor BPBD Ende, Rabu (19/8/2026) siang, Letjen TNI Suharyanto mengatakan dampak bencana di Ende tidak separah Nagekeo dan Manggarai tetapi pemerintah tetap gerak cepat melakukan penanganan.
“Ende tidak terdampak parah tetapi tidak boleh diabaikan atau dikesampingkan. Langkah penanganan harus lebih cepat karena masyarakat banyak yang terdampak. Jadi saya minta Bupati dan Wakil Bupati tetap semangat”.
Memang bencana ini bencana daerah tetapi untuk Ende bencana ini adalah bencana Kabupaten maka Bupati harus bertanggungjawab untuk memimpin dan menanganinya. Bupati tidak boleh sendirian harus libatkan Kapolres dan Dandim sebagai garda terdepan.
Kepala BNPB juga menekankan agar dalam penanganan bencana birokrasi tidak boleh terlalu diutamakan yang penting tugas pokoknya untuk keselamatan rakyat dan itu yang paling utama.
“Saya minta di tingkat Kabupaten Ende juga demikian dan segera dibentuk Satgas yang lengkap, yang baik dan bagus untuk melakukan penanganan.
BNPB mendukung pemerintah daerah melakukan penanganan dan mendorong pemerintah daerah mengutamakan keselamatan masyarakat.
“Meskipun ini bencana daerah tetapi kami dari BNPB tetap memperhatikan sebagai bentuk perwujudan dan kepedulian. Hal itu sesuai perintah bapak Presiden, Bapak Prabowo Subianto sejak hari pertama bencana, Sabtu 15 Agustus 2026 siangnya kami langsung rapat kordinasi dan malamnya sudah datang ke daratan Flores”.
“Saya minta dalam penanganan bencana unsur manusianya yang didahului, kalau ada yang meninggal dan tertimbun harus segera diurus. Tadi laporan tidak ada yang meninggal lagi dan tertimbun maka kita urus yang hidup baik yang mengalami luka berat dan ringan. Itu menjadi prioritas penanganan. Saya minta tiap hari dicek kalau ada yang sakit dan perlu dirujuk keluar Ende maka laporkan dan segera diurus,” tegas Kepala BNPB RI.
Letjen TNI Suharyanto mengatakan terkait ribuan pengungsi yang tersebar harus dicek setiap hari. Pastikan kebutuhan utama mereka seperti makanan, air minum dan obat- obatan terpenuhi.
“Mudah-mudahan ribuan pengungsi yang dilaporkan itu karena trauma dengan adanya bencana susulan dan bisa pulang ke rumah. Sampaikan kepada masyarakat jangan panik dan tidak terpengaruh dengan hoaks”.
Pemerintah daerah juga diminta bergerak cepat mendata kerusakan rumah warga karena bencana agar segera dibantu oleh pemerintah.
“Segera selesaikan pendataan kerusakan rumah warga baik rusak berat, sedang dan ringan. Harus dalam waktu dua minggu agar segera dibantu oleh pemerintah, rusak ringan Rp 15 juta dan rusak berat Rp 30 juta. Uang ini bisa disalurkan jika datanya sudah masuk”.
Penyaluran uang akan dilakukan melalui bank dan uang ini masih diblokir atau tidak bisa ditarik tunai oleh masyarakat. Uang tersebut bisa dicairkan saat membeli material. Uang yang bisa dicairkan tunai hanya upah tukang sebesar Rp 30%.
“Jika rusak ringan dan sedang sudah diselesaikan maka kita urus rumah yang rusak berat untuk dibangun hunian tetap dengan nilai Rp 70 juta ukuran rumah layak huni”.
Bagi warga yang rumahnya rusak berat sambil menunggu pembangunan hunian harus segera ditangani paling lambat keluar dari tenda pengungsi dalam waktu tiga minggu kedepan.
Solusinya bisa numpang di rumah keluarga dan dibiayai pemerintah Rp 600.000 per bulan dari dana tunggu hunian. Atau solusinya dibangun hunian sementara (Huntara) di lokasi dekat rumah yang rusak berat sambil tunggu rumah atau hunian tetap.
Update Dampak Bencana
Data yang diperoleh dari posko tanggap darurat bencana Kabupaten Ende, Rabu (19/8/2026) malam jumlah kerusakan rumah warga akibat gempa sebanyak 2024 unit.
Jumlah masyarakat terdampak sebanyak 3.372 orang. Titik pengungsian terpusat sebanyak 42 titik. Fasilitas pendidikan yang rusak sebanyak 110 sekolah.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










