Oleh: Aschari Senjahari Rawe, M.Pd.AIFO
GEMPA bumi tidak hanya meruntuhkan rumah, fasilitas umum, dan sarana pendidikan. Bagi anak-anak SD dan PAUD, bencana juga dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat.
Rasa takut, cemas, sulit tidur, menangis, kehilangan semangat bermain, hingga takut kembali ke sekolah merupakan respons yang dapat muncul setelah mengalami bencana.
Karena itu, trauma healing bagi anak-anak SD dan PAUD di Flores tidak boleh dipandang sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai bagian penting dari proses pemulihan pascabencana.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa pemulihan bencana harus mencakup kesehatan jiwa, terutama bagi anak-anak yang terdampak. Kegiatan seperti bermain, bercerita, menggambar, dan aktivitas interaktif dapat membantu anak kembali merasa aman dan nyaman.
Untuk anak PAUD, pendekatannya tentu berbeda dengan anak SD. Dunia anak adalah dunia bermain. Mereka tidak harus dipaksa menceritakan pengalaman traumatisnya.
Guru, orang tua, dan relawan dapat menciptakan ruang yang aman melalui permainan sederhana, bernyanyi, menggambar, mewarnai, bercerita, dan aktivitas kelompok yang menyenangkan. Pedoman Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya kegiatan bermain bagi anak dalam fase awal setelah bencana.
Sementara bagi anak SD, trauma healing dapat dikembangkan melalui kegiatan yang lebih terarah: permainan kelompok, aktivitas seni, olahraga ringan, membaca, bercerita, kegiatan keagamaan yang sesuai konteks keluarga, serta pembelajaran yang secara perlahan mengembalikan rutinitas sekolah. Rutinitas yang aman dan dapat diprediksi membantu anak memperoleh kembali rasa aman dan kepercayaan terhadap lingkungannya.
Yang terpenting, trauma healing bukan berarti memaksa anak melupakan gempa. Tujuannya adalah membantu anak memahami bahwa dirinya aman, memiliki orang-orang yang mendukungnya, dan perlahan dapat kembali menjalani kehidupan. Pendekatan dukungan psikologis juga sebaiknya tidak memaksa anak menceritakan pengalaman traumatisnya; anak perlu diberi ruang untuk berbicara ketika mereka siap.
Di Flores, kegiatan pemulihan dapat pula memanfaatkan kekuatan budaya lokal. Permainan tradisional, lagu daerah, tarian, cerita rakyat, kegiatan gotong royong, serta keterlibatan guru, orang tua, tokoh masyarakat dan tokoh agama dapat menjadi sarana membangun kembali rasa kebersamaan dan harapan anak.
Sekolah juga harus menjadi ruang pemulihan, bukan sekadar tempat mengejar ketertinggalan pelajaran. Guru perlu memahami bahwa konsentrasi anak mungkin belum kembali normal. Karena itu, pembelajaran pascabencana harus lebih manusiawi, fleksibel, dan memperhatikan kondisi psikologis peserta didik.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 Selanjutnya










