Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi - FloresPos Net

Sinodalitas sebagai Jalan Rekonsiliasi

- Jurnalis

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

SIDANG Pleno XII Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) yang berlangsung di Jakarta menjadi magnet bagi para pemimpin Gereja dari berbagai penjuru dunia.

Dalam forum ini, para uskup dan delegasi dari Vatikan, Afrika, Eropa, Timur Tengah, Oseania, Amerika Serikat, serta perwakilan komunitas ekumenis yang lebih luas, menyatukan suara mereka. Mereka menegaskan bahwa perjalanan sinodal Gereja menawarkan jalan nyata menuju rekonsiliasi di tengah dunia yang semakin terpecah oleh polarisasi dan konflik.

Kehadiran pemimpin Gereja lintas benua ini menandakan bahwa tantangan yang dihadapi umat manusia saat ini bersifat universal. Bahwasanya, isu perpecahan sosial, ketegangan geopolitik, dan krisis kemanusiaan tidak mengenal batas geografis.

Oleh karena itu, respons yang dibangun pun harus bersifat kolektif. FABC XII kali ini bertransformasi menjadi ‘panggung dialog global’ yang inklusif, tempat berbagai tradisi spiritual dan ekumenis saling bertukar perspektif untuk mencari solusi bersama.

Baca Juga :  Menakar Kualitas Kepemimpinan Daerah: Antara Popularitas dan Kapabilitas

Inti dari seruan tersebut berpusat pada konsep sinodalitas, yaitu sebuah cara hidup dan bertindak yang menekankan prinsip ‘berjalan bersama’.

Dalam praktiknya, sinodalitas menuntut adanya budaya mendengar yang aktif, partisipasi yang setara, dan tanggung jawab bersama dalam mengambil keputusan.

Di tengah deru kebisingan dunia yang sering kali mengedepankan ego sektoral, pendekatan ini hadir sebagai antitesis yang menawarkan ruang aman untuk merajut kembali benang-benang persaudaraan yang putus.

Rekonsiliasi yang ditawarkan melalui perjalanan sinodal ini bersifat transformatif. Hal ini menuntut pergeseran dari ‘sikap defensif’ menuju ‘keterbukaan yang tulus terhadap sesama’.

Para pemimpin Gereja menekankan bahwa perdamaian tidak akan terwujud melalui isolasi, melainkan melalui pertemuan yang penuh empati.

Dengan menjadikan martabat manusia sebagai titik temu, sinodalitas mendorong terciptanya jembatan dialog yang mampu meredam kebencian dan memulihkan kepercayaan di tengah masyarakat yang terfragmentasi.

Baca Juga :  Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia)

Memasuki hari ketiga, Sidang Pleno XII FABC di Jakarta telah mengukir resonansi yang mendalam dan menggugah nurani.

Di tengah kepungan disonansi global yang kerap menghantui peradaban dengan bayang-bayang perpecahan, komitmen untuk ‘berjalan bersama’ hadir bagaikan mercusuar yang menembus kegelapan zaman.

Momen ini menegaskan bahwa persaudaraan sejati bukanlah utopia yang mustahil, melainkan sebuah pilihan sadar untuk merangkul keberagaman dan mengubahnya menjadi kekuatan pemersatu yang tangguh.

Dalam kerangka tersebut, sinodalitas bertransformasi dari wacana teologis menjadi kompas moral yang aplikatif dan membumi. Ia menjelma menjadi peta jalan nyata bagi umat beriman maupun setiap insan berkehendak baik yang rindu akan perubahan.

Dengan menapaktilasi nilai-nilai kebersamaan, kita diamanatkan untuk merajut kembali ‘tenun kehidupan’ yang lebih manusiawi, menegakkan keadilan substantif, dan menyemai perdamaian abadi sebagai warisan luhur bagi masa depan. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas
Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik
Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran
Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan
Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende
Sumpah yang Dimudahkan
Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:33 WITA

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas

Senin, 2 November 2026 - 13:09 WITA

Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik

Senin, 2 November 2026 - 09:21 WITA

Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:26 WITA

Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende

Berita Terbaru