Oleh: Christofel Oktavianus Nobel Pale, S.Pi.,M.Si.
BAGI masyarakat pesisir, laut bukan sekadar hamparan air, tetapi sumber kehidupan. Di banyak daerah pesisir di Indonesia, termasuk di Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, laut menjadi tempat masyarakat menggantungkan harapan untuk menghidupi keluarga.
Namun di balik hasil tangkapan ikan yang dibawa pulang, selalu ada ketakutan yang diam-diam hidup di hati keluarga nelayan: apakah mereka akan kembali dengan selamat?
Beberapa waktu terakhir, masyarakat Kecamatan Paga kembali dikejutkan dengan kabar hilangnya nelayan saat melaut.
Dua nelayan asal Paga dilaporkan hilang setelah mengalami kerusakan mesin di tengah laut ketika mencari ikan di rumpon perairan selatan Flores. Dalam laporan pencarian disebutkan bahwa baling-baling perahu mereka terlepas sehingga perahu tidak dapat bergerak di tengah cuaca dan gelombang yang tidak menentu.
Peristiwa seperti ini sebenarnya bukan kejadian baru. Hampir setiap tahun selalu ada kabar nelayan hilang, tenggelam, atau terombang-ambing di laut selama berhari-hari.
Bahkan sebelum kasus terbaru ini selesai menjadi perhatian masyarakat, warga Paga juga pernah menghadapi kejadian serupa di mana nelayan hilang saat melaut dan membutuhkan waktu panjang untuk proses pencarian. Sebagian ditemukan selamat, tetapi tidak sedikit pula yang akhirnya tidak pernah kembali.
Kondisi ini memperlihatkan satu kenyataan pahit: nelayan kecil di daerah pesisir masih bekerja dalam situasi yang jauh dari kata aman. Mereka menghadapi ombak besar, cuaca ekstrem, kerusakan mesin, hingga keterbatasan alat komunikasi hanya dengan perlindungan yang sangat minim.
Banyak nelayan tradisional masih menggunakan perahu sederhana tanpa alat navigasi yang layak, tanpa pelampung keselamatan memadai, bahkan tanpa perangkat darurat ketika terjadi kecelakaan di laut.
Ironisnya, negara sering berbicara tentang besarnya potensi ekonomi kelautan, tetapi perlindungan terhadap manusia yang bekerja di laut masih terasa setengah hati.
Bantuan pemerintah lebih sering terlihat pada pembagian mesin, alat tangkap, atau program peningkatan produksi perikanan. Semua itu memang penting, tetapi keselamatan nelayan seharusnya menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap program.
Yang lebih menyedihkan, masyarakat pesisir sering merasa bahwa perhatian serius baru muncul setelah ada korban hilang. Ketika nelayan belum ditemukan, keluarga hanya bisa menunggu kabar dengan penuh kecemasan. Ibu, istri, dan anak-anak nelayan terpaksa bertahan dalam ketidakpastian selama proses pencarian berlangsung. Situasi seperti ini tidak hanya meninggalkan luka ekonomi, tetapi juga trauma sosial yang panjang bagi keluarga nelayan.
Menurut saya, pemerintah perlu jujur mengakui bahwa sistem perlindungan keselamatan nelayan kecil masih lemah, terutama di wilayah pesisir terpencil. Program keselamatan laut belum menyentuh seluruh nelayan secara merata. Informasi cuaca memang tersedia, tetapi belum tentu mudah diakses oleh nelayan tradisional yang terbatas jaringan komunikasi maupun teknologi.
Selain itu, banyak nelayan tetap memaksakan diri melaut meskipun cuaca buruk karena faktor ekonomi. Mereka sadar risikonya besar, tetapi kebutuhan hidup membuat mereka tidak punya banyak pilihan. Dalam kondisi seperti ini, negara seharusnya hadir lebih kuat, bukan hanya saat terjadi musibah, tetapi sebelum musibah itu datang.
Kasus nelayan hilang di Paga menjadi pengingat bahwa keselamatan nelayan bukan persoalan kecil. Ini adalah persoalan kemanusiaan. Laut memang memiliki risiko, tetapi risiko itu tidak boleh dibiarkan sepenuhnya ditanggung sendiri oleh masyarakat kecil.
Saran dan Masukan Bagi Pemerintah
1. Mewajibkan standar keselamatan bagi seluruh perahu nelayan kecil. Pemerintah perlu memastikan setiap perahu memiliki pelampung, alat komunikasi darurat, lampu navigasi, dan perlengkapan keselamatan dasar sebelum diizinkan melaut.
2. Membangun pos keselamatan laut di wilayah pesisir rawan. Kecamatan pesisir seperti Paga membutuhkan pos pengawasan dan respon cepat agar pencarian korban dapat dilakukan lebih cepat ketika terjadi keadaan darurat.
3. Memperluas akses informasi cuaca hingga desa nelayan. Informasi gelombang dan cuaca ekstrem harus disampaikan secara sederhana dan langsung kepada masyarakat melalui radio nelayan, pengeras suara desa, atau pusat informasi pelabuhan.
4. Memberikan pelatihan keselamatan laut secara rutin. Banyak nelayan kecil belum memahami prosedur darurat di laut. Pelatihan penggunaan alat keselamatan dan penanganan kondisi darurat harus dilakukan secara berkala.
5. Mempermudah perlindungan asuransi nelayan. Program asuransi jangan hanya berhenti pada administrasi. Pemerintah harus memastikan keluarga korban benar-benar memperoleh bantuan yang cepat dan layak ketika musibah terjadi.
6. Meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir. Selama nelayan masih hidup dalam tekanan ekonomi, mereka akan tetap mempertaruhkan nyawa demi memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, perlindungan keselamatan harus dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan.
Pada akhirnya, nelayan kecil bukan hanya pencari ikan, tetapi penjaga kehidupan pesisir dan penopang pangan masyarakat. Negara tidak boleh membiarkan mereka menghadapi bahaya laut sendirian. Jangan sampai perhatian terhadap nelayan hanya ramai ketika ada korban hilang, lalu perlahan dilupakan setelah laut kembali tenang.*
Penulis adalah Dosen dan Ketua Prodi Manajemen Sumber Daya Perikanan (MSP) Fakultas Tekonologi Pangan, Pertanian dan Perikanan Unipa Maumere










