Oleh: Nurdin
DI TENGAH kebisingan politik dan banjir opini yang saling berkejaran, kita sering lupa bahwa kebijaksanaan tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar. Ia justru kerap tumbuh dari kampung-kampung kecil yang nyaris tak terdengar.
Saya lahir dan tumbuh di Reo, pesisir utara Flores, sebuah kampung yang bukan hanya dikenal sebagai penghasil bawang merah, tetapi juga sebagai titik pertemuan sejarah. Secara geografis saya orang Manggarai, namun bahasa yang hidup di rumah kami adalah bahasa Bima, jejak dari masa ketika pengaruh Kesultanan Bima dan Gowa menjangkau wilayah ini.
Dari ruang perjumpaan budaya itulah saya menerima warisan nilai yang hingga kini masih saya pegang: Tei Ra Ngoa.
Secara sederhana, Tei Ra Ngoa berarti “pengajaran lisan”. Namun maknanya jauh melampaui itu. Ia bukan sekadar nasihat, melainkan sistem nilai yang diwariskan secara hidup—tanpa teks, tanpa kurikulum, tetapi tertanam dalam ingatan dan laku.
Almarhum ayah saya adalah salah satu penjaga nilai itu. Ia bukan orang yang banyak bicara. Tapi dari serambi kayu rumah sederhana di tengah sawah, ia menanamkan tiga prinsip yang hingga kini menjadi kompas dalam membaca dunia.
Pertama, “jaga ruku rawi mu, jaga eli ra nggahimu” : jaga sikap dan perbuatanmu, jaga ucapanmu. Ini bukan sekadar etika personal, melainkan fondasi integritas. Di tengah era ketika kata-kata begitu mudah dilontarkan dan dipolitisasi, kemampuan menjaga lisan menjadi bentuk kedewasaan yang langka. Tidak semua hal perlu direspons, dan tidak semua kebenaran harus diumumkan dengan gaduh.
Kedua, “ncao si dou ta ele rai ta di, ncao si dou ta di rai ta ele” : jika ada keributan di barat, pergilah ke timur; jika di timur, pergilah ke barat. Sekilas ini tampak seperti anjuran menghindar. Namun dalam praktiknya, ini adalah strategi sosial. Tidak semua konflik layak dimasuki. Ada situasi di mana menjauh justru menjadi pilihan rasional untuk menjaga energi dan fokus. Dalam dunia yang dipenuhi provokasi, kemampuan untuk tidak terseret adalah bentuk kecerdasan.
Ketiga, “lenga labo dou ma mpanga, baina mpanga ntau nggomi, lenga labo dou ma mbani baina ncau labo nggomi…” : bertemanlah bahkan dengan mereka yang berpotensi menyakiti, agar kita memahami mereka tanpa harus menjadi seperti mereka. Ini bukan kompromi terhadap nilai, melainkan kemampuan membaca realitas sosial secara utuh. Dunia tidak dihuni oleh manusia yang seragam. Kecerdasan sosial terletak pada kemampuan berelasi tanpa kehilangan prinsip.
Ketiga ajaran ini bermuara pada satu falsafah yang lebih luas dalam tradisi Manggarai: “Wa Wae Cama-Cama, Eta Golo Cama-Cama” : di lembah kita bersama, di puncak pun tetap bersama. Sebuah pengingat bahwa tidak ada keberhasilan yang sepenuhnya individual. Selalu ada kerja kolektif, sadar atau tidak, di balik setiap capaian kita ada kontribusi orang lain.
Dalam konteks kekinian, nilai-nilai ini terasa relevan. Beberapa waktu lalu, pernyataan Bapak Jusuf Kalla tentang perannya dalam perjalanan politik Bapak Joko Widodo memantik perdebatan publik. Sebagian melihatnya sebagai keterusterangan, sebagian lain menilainya berlebihan.
Respons Jokowi justru singkat: “Saya ini hanya orang kampung. Saya bukan siapa-siapa.”
Jawaban ini bisa ditafsirkan beragam. Namun jika dibaca melalui lensa Tei Ra Ngoa, ia mencerminkan tiga hal sekaligus.
Pertama, pengendalian diri dalam berucap. Jokowi tidak memperpanjang polemik, tidak masuk dalam arena saling klaim yang berpotensi memperkeruh situasi. Dalam lanskap politik yang sering diwarnai respons reaktif, sikap ini justru menunjukkan disiplin komunikasi.
Kedua, kemampuan memilih medan. Alih-alih larut dalam perdebatan, ia cenderung mengalihkan energi pada aktivitas lain; menyapa publik secara langsung, hadir dalam ruang-ruang yang lebih produktif. Ini bukan bentuk penghindaran, melainkan strategi untuk tidak terseret dalam dinamika yang tidak konstruktif.
Ketiga, pendekatan inklusif dalam relasi politik. Sepanjang kariernya, Jokowi dikenal merangkul berbagai kelompok, termasuk mereka yang sebelumnya berseberangan. Pendekatan ini bukan tanpa risiko, tetapi mencerminkan upaya mengubah potensi konflik menjadi kerja sama.
Lebih jauh, pernyataan “saya bukan siapa-siapa” juga dapat dibaca sebagai penolakan terhadap personalisasi kekuasaan. Dalam kerangka “cama-cama”, keberhasilan tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari interaksi banyak pihak: pendukung, relawan, struktur politik, hingga dinamika sosial yang lebih luas.
Menariknya, nilai-nilai ini tidak berdiri sendiri. Dalam tradisi Jawa, terdapat ungkapan serupa: “lamun siro pinter, ojo minteri” : jika engkau pintar, jangan merasa paling pintar. Ada pula prinsip untuk tidak menyalahgunakan kekuatan dan tidak mendahului dengan cara yang tidak adil. “Lamun siro sekti, ojo mateni.
Lamun siro banter, ojo ndhisiki.”
Ini menunjukkan bahwa kearifan lokal di berbagai wilayah Nusantara memiliki benang merah yang sama: integritas, pengendalian diri, dan penghargaan terhadap kebersamaan.
Di tengah arus modernitas dan percepatan informasi, kearifan semacam ini sering dianggap usang. Namun justru di situlah letak kekeliruannya. Kita cenderung mencari solusi dari konsep yang jauh, sementara nilai-nilai yang dekat dengan kehidupan sehari-hari justru diabaikan.
Tei Ra Ngoa bukan sekadar warisan budaya. Ia adalah kerangka berpikir; cara membaca situasi, mengambil keputusan, dan menempatkan diri dalam relasi sosial. Ia tidak menawarkan jawaban instan, tetapi memberi arah.
Dalam konteks Indonesia hari ini; yang diwarnai polarisasi, fragmentasi informasi, dan kompetisi narasi, kompas semacam ini menjadi penting. Bukan untuk menghindari konflik sepenuhnya, tetapi untuk memastikan bahwa konflik tidak merusak fondasi kebersamaan.
Ayah saya mungkin tidak pernah membaca buku teori politik atau komunikasi. Ia tidak menulis gagasannya dalam jurnal. Namun dari serambi sederhana di kampung, ia mewariskan sesuatu yang justru sangat relevan untuk membaca dunia hari ini.
Barangkali sudah saatnya kita memberi ruang lebih besar bagi kearifan lokal, bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai sumber etika publik yang hidup.
Sebab di tengah zaman yang riuh, kita tidak hanya membutuhkan suara yang keras. Kita membutuhkan arah.
Dan kadang, arah itu datang dari tempat yang paling sederhana.
Makassar, 28 April 2026.
Penulis adalah Putra Manggarai, Perantau di Makassar.










