MAUMERE, FLORESPOS.net-Ratusan warga yang berasal dari 10 suku di Romanduru, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang bersama keluarga korban dan PMKRI Cabang Maumere Santo Thomas Morus mendatangi Gedung DPRD Sikka.
Mereka hadir untuk mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait kasus pembunuhan Stevania Kristiani Noni (14) siswi SMP MBC Ohe yang menjadi korban pembunuhan.
Tampak hadir kedua orang tua korban Maria Yohana Nona dan Herman Yosep serta kakak kandung Noni Inocensius Franklin Mula serta keluarga besar korban baik perempuan maupun laki-laki.
“Kalau polisi tidak mampu kasih keluar pelaku, biar kami yang menghakimi. Di mana keadilan, harus ada titik terang,” sebut Maria menahan sedih saat berbicara di ruang rapat DPRD Sikka, Jumat (27/3/2026).
Maria mengatakan, kasus pembunuhan yang menimpa anaknya begitu sadis sehingga dirinya memohon agar para pelaku harus dihukum seberat-beratnya.
Ia mengatakan, anaknya seorang perempuan dan dirinya mau bertanya jika kejadian seperti ini terjadi di keluarga ibu bapak para anggota dewan, apakah juga bisa terima dengan keadaan seperti ini?.
Maria menegaskan, harus diingat bahwa kita semua dilahirkan dari seorang ibu dan anaknya juga calon ibu sehingga dirinya meminta dengan sangat agar para pelaku dihukum seberat-beratnya.
“Saya menuntut agar bukti-bukti yang belum diketemukan,saya minta tolong dengan hormat harus ditemukan.Pelaku kan sudah ditahan, kenapa mereka tidak mau mengatakan?,” tanyanya.
Maria juga menanyakan apabila pelaku tidak mengakui keberadaan barang bukti kenapa polisi tidak berupaya agar pelaku bisa mengakuinya dan jangan beralasan karena adanya Hak Asasi Manusia (HAM).
Sekali lagi ia menegaskan polisi jangan beralasan karena HAM sehingga meski pelaku tidak mengaku polisi tidak bisa membuat mereka mengakui keberadaan barang bukti.
“Hati saya hancur. Sebetulnya saya tidak mau datang ke sini karena hati saya hancur. Saya setiap mendengar cerita anak saya, dada saya sakit,” ucapnya menahan tangis.
Maria mengatakan kalau memang para pelaku tidak mau mengatakan dimana mereka sembunyikan rambut, baju, jari tangan dan telepon genggam anaknya dan polisi tidak mampu maka kasih keluar pelaku dari tahanan.
Ia menegaskan kasih keluar para pelaku dan serahkan kepada keluarga korban maka hukum rimba yang akan mereka lakukan sebab sepertinya polisi sudah mentok dalam melakukan pengusutan kasus ini.
“Sepertinya polisi tidak ada usaha lain lagi.Ada lagi yang mengatakan pelaku adalah anak anak di bawah umur sehingga nanti hukumannya begini.Begitukah, ini polisi yang mengatakannya,” ucapnya.
Maria mempertanyakan dimana keadilan sehingga di RDP DPRD Sikka dirinya menuntut harus ada titik terang yang menyebabkan pembunuhan anaknya yang begitu sadis.
“Harus, dan para pelaku dihukum seberat beratnya. Kalau tidak, maka para pelaku akan melakukan lagi karena mereka itu melakukan kegiatan perdukunan,” terangnya.
Ayah Noni, Herman Yosep saat berorasi di depan Gedung DPRD Sikka di hadapan puluhan aparat Polres Sikka menegaskan bila polisi sudah tidak mampu menangani kasus pembunuhan anaknya maka pihaknya akan mengadili dengan cara mereka sendiri.
Sebagai orang tua korban dirinya mengatakan hal ini sebab sudah sebulan berjalan kasus ini sepertinya terkatung-katung sehingga keluarga mempertanyakan dimana hasilnya.
“Jasad anak kami, kami sendiri yang menemukan dan kalian panen hasilnya. Kami melapor ke Polsek Kewapante bahwa anak kami hilang polisi mengatakan kenakalan remaja itu biasa, paling dia lari ikut laki-laki, betapa jahatnya kalian para polisi,” ucapnya menahan amarah.
Herman meminta kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) agar menegakan keadilan seadil-adilnya dan apabila pelaku dikatakan anak di bawah umur, terus anaknya yang juga dibawah umur dan dibunuh bagaimana nasibnya.
Ia bertanya apabila kasus seperti yang terjadi tersebut menimpa anak dan isteri para polisi maka bagaimana perasaannya sebab sudah sebulan kasus ini ditangani namun sepertinya terkatung-katung.
Dirinya bertanya, apakah karena mereka orang kecil, tidak punya uang, tidak punya harta sehingga mereka diperlakukan seperti ini.
“Aparat Polsek Kewapante bernama Oncu menyuruh kami ke rumah pelaku dan dirinya menunggu di tempat yang jauh. Dia bilang kalau ada orang di rumah pelaku maka panggil dia. Terus untuk apa dia kesana,” sesalnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










