Pemkab Manggarai Barat Giat Basmi Wereng Batang Coklat - FloresPos Net

Pemkab Manggarai Barat Giat Basmi Wereng Batang Coklat

- Jurnalis

Selasa, 25 Juni 2024 - 13:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat (Mabar) NTT melalu Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) terus membasmi Wereng Batang Coklat (WBC) yang menyerang tanaman padi di Manggarai barat. Jika tidak dibasmi, bisa saja petani Mabar gagal panen. WBC (nilaparvata lugens) hama padi paling berbahaya.

Demikian Vitalis Anselmus Syukur, Koordinator POPT-PHP pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Mabar ketika memimpin gerakan pengendalian (gerdal) Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) jenis WBC di persawahan irigasi Tiwu Nampar Kecamatan Komodo, Mabar, Senin (24/6/2024).

Gerdal yang dipusatkan Kelompok Tani (Poktan) Kembang Mbuhung, lokasi Mbot 2 itu diikuti Tarsisius Pion Rinca (Koordinator BPP Komodo), Ahmad Kasing (PPL Desa Tiwu Nampar), Serka P.D.Yohanes Suhardi (Babinsa/Koramil 1612-02 Komodo/mitra), Ketua Poktan Kembang Mbuhung Muhamad Kisman serta belasan anggota poktan lainnya.

Gerdal di persawahan Tiwu Nampar Kecamatan Komodo Mabar NTT, Senin (24/6/2024).

Sebelum gerdal, Vitalis Anselmus Syukur yang akrab disapa Seli itu mengingatkan peserta, antara lain gunakan masker dan mencuci bersih semua tangki alat semprot demi menghidari hal-hal yang tak diinginkan. Waktu gerdal, pagi jam 7.00-11.00 Wita dan sore mulai jam 3.00 Wita.

Dilibatkannya TNI-AD dalam kegiatan ini, kata Seli, bukan untuk takut-takuti petani, masyarakat, tapi karena mitra, ada kerja sama antara Kementerian Pertanian RI dan Mabes TNI-AD khususnya.

Menurut Seli, WBC merupakan salah satu hama  tanaman padi paling berbahaya dan merugikan petani padi, karena bisa berakibat gagal panen. WBC menyerang pangkal batang padi. Tak hanya itu, WBC juga menjadi vektor bagi penularan penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa.

Baca Juga :  Meningkat, Pertumbuhan UMKM di Manggarai Barat

Siklus hidup WBC relatif pendek yaitu kurang dari 35 hari. Seekor WBC betina mampu beranak sampai 300 ekor. Kemampuan terbang WBC yang bersayap selama 30 hari bisa mencapai 200 kilometer (km). WBC dapat menyerang tanaman padi pada semua umur, termasuk menjelang panen.

“Oleh karena itu pengendaliannya harus tuntas pada generasi I (sebelum telur WBC menetas) atau selambat-lambatnya pada generasi II (sebelum anak WBC terbang),” ujar Seli.

Penyebab terjadinya ledakan populasi OPT WBC,  ungkap Seli, yakni kemarau basah (La.nina), suhu naik 1, A dan kelembaban naik 25% serta tersedianya makanan sepanjang tahun juga pemicu perkembangan WBC, dan itu yang terjadi di Mabar saat ini.

Pengendalian WBC meliputi preventif dan responsif, termasuk rotasi tanaman dan lainnya. Penggunaan insektisida pilihan terakhir apabila populasi sangat tinggi tetapi disarankan tidak berulang-ulang, harus kombinasi dengan agen hayati. Penggunaan pestisida harus penuhi anjuran 6 T (tepat sasaran, tepat jenis, tepat waktu, tepat cara, tepat dosis, dan tepat mutu).

Masih Seli, sebelum di Kembang Mbuhung, gerdal hama serupa juga (WBC) dilakukan di Poktan Bangun Bersama di Desa Golo Pongkor Kecamatan Komodo 21 Juni 2024. Petani yang ikut 30 orang. Petugas Pendamping 10 orang, termasuk dari TNI-AD. Luas pengendalian WBC 15 hektare (ha) dari total luas lahan sawah di desa tersebut 120 ha. Tingkat serangan WBC di Golo Pongkor dan Tiwu Nampar saat ini masuk kategori sedang.

Baca Juga :  Gereja Tua Rekas dan Wisata Minat Khusus Flores Barat

Sedangkan jumlah petani yang ikut gerdal di Kembang Mbuhung 15 orang, 5 petugas pendamping, termasuk PPL, Koordinator BPP, Babinsa, dan dirinya, ujar Seli.

Pada kesempatan yang sama Serka Yohanes, juga senada. Dia meminta para petani mengikuti petunjuk pihak Dinas Pertanian (TPHP) jika ingin pertaniannya sukses, termasuk dalam hal pengendalian WBC. Ini demi ketahanan pangan nasional dan utamanya untuk pemenuhan stok pangan masyarakat/petani itu sendiri, tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Ahmad Kasim (PPL), mengatakan total luas areal sawah pada daerah irigasi Tiwu Nampar yakni 89 ha, irigasi telnis. Saat ini umur tanaman padi setempat 2 minggu sampai 1 bulan. Setahun dua kali musim tanam/panen. Adapun tanam/panen ketiga lebih pada serangan ternak, karena di daerah itu banyak sapi dan kerbau milik masyarakat/petani setempat, katanya.

Muhamad Kisman, Ketua Poktan  Kembang Mbuhung saat itu mengaku bersyukur kepada Pemiab Mabar yang selama ini sering membantu cuma-cuma bibit padi, obat-obatan dan berbagai hal terkait pertanian lainnya. Ke depannya, dibantu atau tidak oleh pemerintah, dia tetap bersyukur, tutupnya. *

Penulis: Andre Durung I Editor:Anton Harus

Berita Terkait

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri
Alumni Akpol 95 Kirim 1.200 Paket Bantuan untuk Korban Gempa di Tiga Kabupaten
Masa Tanggap Darurat Berakhir, BNPB Soroti Lambannya Verifikasi Data Kerusakan Rumah di Ende
TNI Distribusikan 400 Tenda, Ribuan Peralatan Tidur dan Belasan Ribu Paket Sembako
Keluarga Almarhum Alfonsius Ucapkan Terima Kasih Kepada Bupati Sikka dan Semua Pihak yang Terlibat dalam Pemulangan Jenasah
Pemerintah Akan Laksanakan Upacara Penghormatan Saat Pemakanan Almarhum Alfonsius, Korban Penembakan KKB di Papua
Ratusan Warga Iringi Jenasah Almarhum Alfonsius Dari Bandara Menuju Rumah Duka
Kisah Ibu Dari Alfonsius Mengenang Putranya Yang Meninggal Ditembak KKB di Papua
Berita ini 129 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 10:02 WITA

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri

Senin, 14 September 2026 - 09:49 WITA

Alumni Akpol 95 Kirim 1.200 Paket Bantuan untuk Korban Gempa di Tiga Kabupaten

Minggu, 13 September 2026 - 15:44 WITA

Masa Tanggap Darurat Berakhir, BNPB Soroti Lambannya Verifikasi Data Kerusakan Rumah di Ende

Minggu, 13 September 2026 - 15:38 WITA

TNI Distribusikan 400 Tenda, Ribuan Peralatan Tidur dan Belasan Ribu Paket Sembako

Minggu, 13 September 2026 - 15:34 WITA

Keluarga Almarhum Alfonsius Ucapkan Terima Kasih Kepada Bupati Sikka dan Semua Pihak yang Terlibat dalam Pemulangan Jenasah

Berita Terbaru

Opini

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Senin, 14 Sep 2026 - 14:58 WITA

Nusa Bunga

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri

Senin, 14 Sep 2026 - 10:02 WITA

Opini

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Minggu, 13 Sep 2026 - 21:30 WITA