Floratama Learning Center: Pengembangan Ekowisata Bahari di Labuan Bajo Flores - FloresPos Net

Floratama Learning Center: Pengembangan Ekowisata Bahari di Labuan Bajo Flores

- Jurnalis

Rabu, 22 Mei 2024 - 19:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Dunia bahari adalah salah satu primadona penyelenggaraan wisata di Labuan Bajo dan Flores karena kekayaan bawah lautnya yang menakjubkan.

Hamparan laut di antara gugusan pulau-pulau dengan keanekaragaman flora dan fauna menawarkan beberapa spot wisata bahari menarik.

Spot-spot itu antara lain Batu Bolong Reef, Pulau Kanawa, Taka Makassar, Manta Point, Pink Beach, dan Pulau Kelor di perairan Labuan Bajo, Pulau Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Tujuh Belas Pulau di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Perairan Alor, dan perairan lainnya di Flores.

Dengan mengusung tema “Pengembangan Wisata Bahari”, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) kembali selenggara Floratama Learning Center: Tourism & Hospitality Knowledge Management Class (THKMC) Modul Kesembilan.

Tujuannya agar para peserta yang hadir makin mengenal potensi wisata bahari di Pulau Flores sekaligus memahami konsep pengelolaan dan pengembangan wisata bahari yang bertanggung jawab.

Dalam kelas yang diadakan secara daring pada Selasa (21/05/2024) pagi, BPOLBF menghadirkan Cipto Aji Gunawan, Praktisi dan Pengamat Kebijakan Pariwisata sebagai narasumber.

Dalam paparannya, Cipto menyampaikan dua materi penting terkait wisata bahari, yakni Pariwisata Bahari dan Ekowisata Bahari, dimana fokus pariwisata bahari adalah pada rekreasi dan hiburan sedangkan ekowisata bahari mengutamakan aspek berkelanjutan.

Baca Juga :  BPOLBF Targetkan Flores Destinasi Utama Wisata Religi Katolik di Indonesia

Pariwisata bahari berfokus pada aktivitas rekreasi di laut dengan mengutamakan aspek hiburan seperti jet skiing, parasailing, dan bananaboat.

Ekowisata bahari mengutamakan pengalaman wisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab dengan meminimalkan dampak ekosistem dan mendukung konservasi dan biasanya memiliki aturan atau regulasi, misalnya seperti diving atau snorkeling, kayaking, dan sebagainya, jelasnya.

Terhadap dua perbedaan ini, Cipto kemudian menjelaskan bahwa ada beberapa elemen penting yang harus dimiliki dalam ekowisata bahari, yakni melakukan perjalanan ke daerah perairan atau wilayah pesisir, memberi manfaat pada masyarakat lokal, membantu melakukan konservasi terhadap lingkungan lokal, meminimalisir dampak negatif kepada lingkungan alam dan masyarakat lokal, menekankan pada pembelajaran dan interaksi positif, melakukan penilaian kembali, dan melakukan praktik bisnis yang adil dan beretika.

Terkait elemen ini perlu ada pembahasan mengenai carring capacity dalam seluruh aktivitas wisata bahari yang harus dibedakan dengan wisata di darat.

Carring capacity di darat berbeda dengan carring capacity di bawah air, walau untuk luasan yang sama. Jika akan membuat kajian carring capacity, khususnya wisata bahari tidak bisa menggunakan rumus carring capacity di darat untuk diterapkan di air.

Baca Juga :  Bupati Manggarai Barat: Tidak Benar Puskesmas Tentang Tolak Pasien Jantung

Dan untuk membuat kebijakan setelah kajian ini dilakukan, dibutuhkan manajemen yang melibatkan seluruh stakeholder baik dari pemerintah, masyarakat, pengusaha, akademisi, wisatawan, LSM, maupun media, ungkapnya.

Lanjut Cipto, keterlibatan wisatawan untuk lebih bertanggung jawab kepada lingkungan dan aktif dalam konservasi wisata bahari menjadi tren yang berkembang cepat.

Fransiskus Saverius Teguh, Plt. Dirut BPOLBF sekaligus Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan & Konservasi Kemenparekraf RI sampaikan bahwa Kemenparekraf dan BPOLBF terus mendorong tren pariwisata berkelanjutan baik di darat maupun laut.

Kemenparekraf dan BPOLBF terus mendorong pariwisata berkelanjutan dalam semua area baik di darat pun laut dan mengawal penyelenggaraan pariwisata yang bertanggung jawab guna memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa mengorbankan potensi pemenuhan kebutuhan di masa yang akan datang.

Dalam konteks ini, kami ingin memastikan potensi bahari dapat menjadi modal dalam meningkatkan kualitas pariwisata serta membangun sustainable tourism, tutup Frans Teguh. *

Penulis: Andre Durung I Editor: Anton Harus

Berita Terkait

Diperkuat Pemain Eks Ben Mboi Cup, Putri Carmel Menang atas Quen VBC di Soekarno Cup
Berkarya dengan Kompetensi, Berdampak untuk Lewotana (Pembekalan PKL Mahasiswa Fakultas Teknologi IKTL)
OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II
Akses Inklusif Masih Terbatas, Ribuan Pelari Dorong Kesetaraan bagi Anak Disabilitas Lewat Run for Equality 2026
Ngada Gelar Festival Komodo Riung di Desa Lengko Sambi Utara
Wisata Flores–Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur
Bhayangkara Presisi Polres Ende Petik Kemenangan Kedua di Turnamen Voli Soekarno Cup
Momentum Hari Anak Nasional, Save the Children Indonesia Ajak Semua Pihak Berkolaborasi Melalui Festival Pahlawan Anak
Berita ini 84 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 20:37 WITA

Diperkuat Pemain Eks Ben Mboi Cup, Putri Carmel Menang atas Quen VBC di Soekarno Cup

Senin, 27 Juli 2026 - 11:16 WITA

Berkarya dengan Kompetensi, Berdampak untuk Lewotana (Pembekalan PKL Mahasiswa Fakultas Teknologi IKTL)

Senin, 27 Juli 2026 - 10:54 WITA

OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II

Senin, 27 Juli 2026 - 10:49 WITA

Akses Inklusif Masih Terbatas, Ribuan Pelari Dorong Kesetaraan bagi Anak Disabilitas Lewat Run for Equality 2026

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:17 WITA

Wisata Flores–Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur

Berita Terbaru

Nusa Bunga

OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II

Senin, 27 Jul 2026 - 10:54 WITA

Opini

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Senin, 27 Jul 2026 - 06:33 WITA