RUTENG, FLORESPOS.net – Dalam banyak penelitian tingkat dunia diketahui bahwa kontribusi pemanasan global dari sistem pengelolaan makanan mencapai 44-57 persen.
Pemateri ahli Rm. Fery Sutrisna Wijaya dalam sidang pastoral post Natal Keuskupan Ruteng, Flores, NTT, Selasa (9/1/2024) membeberkan data sumber yang menyebabkan terjadinya pemanasan global yang dampaknya dirasakan juga Indonesia dan Manggarai raya ini.
Yang mencegangkan dari data-data itu bahwa ternyata 44-57 persen pemanasan global akibat gas rumah kaca dari sistem pengelolaan makanan.
“Pengelolaan itu mulai dari sistem pertanian dan peternakan industrial kimia sintetik,” katanya.
Lalu, sistem pengemasan makanan, sistem penyimpanan dan pengawetan makanan, sistem transportasi makanan, termasuk deforestasi hutan untuk pertanian dan sistem pengolahan lahan pertanian yang tidak berkelanjutan.
Dari mana angka 44-57 persen pengelolaan makanan menyebabkan pemanasan global?
Datanya 11-15 persen akibat penggunaan minyak dan gas di pertanian dan peternakan, energi fosil yg dipakai untuk menjalankan berbagai mesin dan peralatan.
Dan, pupuk berbasis energi fosil, termasuk limbah kotoran hewan yang menghasilkan gas metan dan gas nitrogen oksida ke udara dan lautan;
Lalu, 15-18 persen akibat deforestasi untuk lahan pertanian dan peternakan. Pertanian kedelai GMO dan kelapa sawit GMO menyebabkan 70-90 persen deforestasi global.
Kemudian, 5-6 persen akibat transportasi makanan dan makanan impor; 8-10 persen akibat pengolahan pangan paska panen dan pengemasan makanan;
Dan, 2-4 persen akibat sistem penyimpanan dengan pendingin yang menghabiskan energi fosil; dan, 3-4 persen akibat membuang sisa makanan (30-50 persen makanan kita dibuang) ke tempat sampah dan bukan dijadikan kompos sehingga menyebabkan gas metan dan gas rumah kaca lainnya.
Romo Ferry mengatakan, solusi yang diusulkan adalah beralih ke pertanian organik yang menggunakan rotasi menanam dan sistem pemeliharaan hewan tradisional free range.
Hal itu mesti didukung kerjasama konsumen dan petani untuk menolak pertanian dan peternakan skala industri, benih GMO, makanan yang terkontaminasi bahan kimia sintetik dan didukung kebijakan publik dan investasi ramah lingkungan.
Kemudian, mempertahankan hutan dan lahan gambut yang menyimpan oksigen dengan menanam pohon sebanyak mungkin. Usaha reforestasi akan ikut menyediakan penghasilan untuk penduduk yang miskin dan pengangguran serta penduduk lokal.
“Beralih ke pangan lokal yang diproduksi petani dan peternak lokal yang segar, tidak banyak kemasan dan langsung dari petani/peternak,” katanya.
Hal praktis lain, yakni membeli makanan segar yang tidak diawetkan dengan sistem pendingin yang menghabiskan energi fosil atau yang menggunakan energi terbarukan;
Meninggalkan kebiasaan makan makanan fast food, makanan yang kaleng dan yang diawetkan dan mengusahakan komposting terutama dari sisa makanan dan makanan yang terbuang.
Menurut Rm. Erik Ratu Pr, ketika itu Rm. Fery menekankan bahwa cara kita menyiapkan lahan, menanam, mengolah, kemasan, pengawetan, transportasi, dan seluruh kebiasaan makan kita harus beralih.
“Beralih dari pertanian atau peternakan industrial ke pertanian dan peternakan lokal organik yang didukung sistem ekonomi bukan kapitalis dan sistem politik yang mendukung pertanian lokal dan organik serta didukung konsumen,” katanya. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor: Anton Harus










