“Kalau kesehatan fisik, umumnya masyarakat awam sudah tahu ketika dirinya terluka harus ke mana dan bagaimana melakukan P3K. Tetapi ketika mengalami luka batin atau psikologis, umumnya masyarakat kita masih belum mengetahui cara mengobati, bahkan cenderung malu untuk menyampaikan,” jelasnya.
Karena itu, trauma healing bukan sekadar kegiatan untuk membuat anak-anak kembali tersenyum. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat mengenali dan menerima bahwa luka batin juga membutuhkan perhatian dan pertolongan.
Sambutan Pemerintah Desa dan Sekolah
Kehadiran Tim Puspsi TNI juga mendapat sambutan baik dari Kepala Desa Wancang, Valerinus Bagung. Pemerintah desa menilai pendampingan psikologis merupakan bagian penting dalam membantu masyarakat melewati masa pemulihan setelah bencana.
Sementara itu, Kepala SDK Wancang, Rony Syukur, menyampaikan rasa puas dan terima kasih atas perhatian TNI dan Tim Psikologi yang datang langsung mendampingi anak-anak.
Menurutnya, setelah mengalami gempa, anak-anak membutuhkan ruang untuk kembali merasa aman, nyaman, dan percaya diri dalam mengikuti kegiatan belajar.
“Anak-anak sangat membutuhkan pendampingan seperti ini. Kami berterima kasih kepada TNI dan Tim Psikologi yang datang langsung mendampingi mereka,” ungkap Rony.
Kolaborasi Lintas Lembaga
Pendampingan psikologis bagi para penyintas juga menjadi bagian dari semangat kolaborasi dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) NTT serta DP3AP2KB Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Manggarai.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, TNI, tenaga profesional psikologi, sekolah, yayasan, pemerintah desa, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memastikan para penyintas mendapatkan pendampingan yang tepat.
Trauma Healing untuk Memulihkan Keberanian
Tim Trauma Healing Puspsi TNI yang diterjunkan ke wilayah Desa Ladur terdiri dari Letkol Inf. Helmi Pamungkas, M.Psi., M.Han., Psikolog; Kapten Caj Chakti Prabowo Effendi, S.Psi.; Lettu Kes Robbyansah; dan Serma Tku Heru Setiawan.
Kegiatan diawali dengan asesmen psikologis untuk mengetahui dan mengklasifikasikan tingkat stres yang dialami para penyintas, baik orang dewasa maupun anak-anak.
Penulis : Wall Abulat
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










